Mushtafa as-Shiba’iy (w. 1384 H) menyebutkan diantara motif menyebarnya hadits palsu adalah karena memuji personal secara berlebihan. Cinta berlebihan seseorang sehingga memujinya secara berlebihan dan membenci pihak lawan secara berlebihan itulah yang melatarbelakangi penyebaran yang masif adanya hadits palsu. Salah satu sosok yang banyak dipuji-puji dalam hadits palsu adalah Ali bin Abi Thalib. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) meriwayatkan dalam bukunya Al-Maudhu'at: عن يحيى بن معِين يَقُول وَسُئِلَ عَن الْعَلَاء بن عبد الرحمن فَقَالَ أحسن أَحْوَاله عِنْدِي أَنه قيل لَهُ عِنْد مَوته أَن لَا تستغفر الله؟ قَالَ لَا أَرْجُو أَن يغْفر الله لي، فقد وضعت فِي فضل عَليّ بن أبي طَالب سبعين حَدِيثا. (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 339) Dari Yahya bin Main ketika ditanya tentang Ala’ bin Abdurrahman. Saya telah membuat 70 haris palsu seputar keutamaan Ali bin Abu Thalib. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 339). Salah satu contoh hadits palsu berkaitan dengan Ali bin Abu Thalib...
"Senja bukanlah awal mula, tapi juga bukan akhir cerita. Senja tak pernah lama, hanya sebentar kemudian kembali tiada. Senja memang bukan pemancar energi, namun bagiku tempat merefleksi diri kembali. Senja adalah saat terindah untuk berserah diri, pada Ilahi Rabbi. Di senja hari, mari saling introspeksi. Monggo ngopi."