Mushtafa as-Shiba’iy (w. 1384 H) menyebutkan diantara motif menyebarnya hadits palsu adalah karena memuji personal secara berlebihan. Cinta berlebihan seseorang sehingga memujinya secara berlebihan dan membenci pihak lawan secara berlebihan itulah yang melatarbelakangi penyebaran yang masif adanya hadits palsu.
Salah satu sosok yang banyak dipuji-puji dalam hadits palsu adalah Ali bin Abi Thalib. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) meriwayatkan dalam bukunya Al-Maudhu'at:
عن يحيى بن معِين يَقُول وَسُئِلَ عَن الْعَلَاء بن عبد الرحمن فَقَالَ أحسن أَحْوَاله عِنْدِي أَنه قيل لَهُ عِنْد مَوته أَن لَا تستغفر الله؟ قَالَ لَا أَرْجُو أَن يغْفر الله لي، فقد وضعت فِي فضل عَليّ بن أبي طَالب سبعين حَدِيثا. (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 339)
Dari Yahya bin Main ketika ditanya tentang Ala’ bin Abdurrahman. Saya telah membuat 70 haris palsu seputar keutamaan Ali bin Abu Thalib. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 339).
Salah satu contoh hadits palsu berkaitan dengan Ali bin Abu Thalib adalah:
قَالَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "النَّظَرُ إِلَى عَلِيٍّ عِبَادَةٌ". (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 339)
Melihat Ali bin Abu Thalib adalah sebuah ibadah. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 339).
Bisa dikatakan yang sering membuat hadits palsu seputar Ali bin Abu Thalib adalah kalangan syiah Rafidhah. Selain memalsukan hadits berkaitan dengan keutaaman Ali bin Abu Thalib, mereka juga membuat hadits palsu berkaitan dengan celaan terhadap shahabat Nabi yang lain.
Sayangnya ada sebagian orang, demi membela shahabat Nabi yang dikritik syiah, membalasnya dengan hadits palsu juga.
Diantaranya, hadits palsu:
"مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلا مَكْتُوبٌ عَلَى وَرَقَةٍ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ عُمَرُ الْفَارُوقُ عُثْمَانُ ذُو النُّورَيْنِ". (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 337)
Tak ada satupun daun di surga, kecuali ada tulisannya “Muhammad Rasulullah, Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khattab dan Utsman dzun nurain. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 337).
Termasuk banyak berkembang hadits palsu seputar keutamaan Muawiyah bin Abu Sufyan, yang bisa dikatakan sebagai lawan politik dari Ali bin Abu Thalib. Kebannyakan hadits ini diutarakan pada masa kekuasaan Muawiyah oleh pendukung-pendukungnya. Diantaranya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مُعَاوِيَةُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ كَتَبَ لَكَ مِنَ الثَّوَابِ بِعَدَدِ كُلِّ مَنْ يَقْرَأُ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ سَاعَةِ كَتْبِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة" (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 2/ 16)
Nabi bersabda: Wahai Muawiyah, sesungguhnya Allah telah menulis bagimu pahala setiap orang yang membaca ayat kursi dari mulai ditulis sampai hari kiamat. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 2/ 16)..
Begitu pula di masa awal Abbasiyah yang berbalik banyaknya riwayat mencela Muawiyah. Misalnya adalah penafsiran tentang “pohon yang terkutuk” pada surat al-Isra ayat 60. Sebagian mufassir mengatakan ini pohon zaqqum di neraka. Namun ada yang menyebutkan bahwa yang dimaksud pohon zaqqum ini adalah Dinasti Umayyah.
Tafsir Qurthubi dan Ruhul Ma’ani dari Imam al-Alusi mencantumkan riwayat Ibnu Murdawaih bahwa suatu saat Aisyah berkata kepada Marwan bin Hakam: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda pada ayah dan kakekmu: “Kalian adalah pohon yang terkutuk dalam al-Qur’an.” Tafsir Ibn Katsir mengatakan riwayat semacam ini lemah dan aneh.
Tafsir al-Thabari mengabarkan ada riwayat bahwa Rasulullah SAW melihat “dinasti fulan” melompat-lompat di atas mimbar beliau bagaikan kera, perbuatan mereka itu membuat beliau marah sehingga sejak itu sampai wafat beliau tidak pernah berkumpul bersama mereka sambil tertawa.
Kadang juga ada hadits palsu yang diciptakam untuk menjilat penguasa. Bagaimana seorang hakim bernama Abul Bakhtari berupaya menjilat Khalifah Harun ar-Rasyid, yang menyenangi burung merpati. Maka sang hakim membacakan riwayat: “tidak ada perlombaan kecuali memanah, pacuan kuda dan merpati.” Aslinya dalam hadits itu tidak ada soal burung merpati, tetapi dia tambahkan untuk menyenangkan Khalifah. Harun ar-Rasyid kemudian memberi dia hadiah.
Begitu sang hakim keluar dari ruangan, Harun berkata: “Demi Allah, aku tahu dia sudah berbohong.” Lantas bukannya sang hakim dicopot atau dihukum, malah diberi hadiah. Bahkan Khalifah memerintahkan burung merpati disembelih. Saat ditanya, “apa salahnya burung merpati?” Jawab Harun: “karena gara-garanya ada orang yang berdusta atas nama Rasulullah.”
Kecintaan berlebih terhadap suatu tokoh biasanya diikuti dengan kebencian berlebih kepada lawannya. Termasuk pembuat hadits palsu tentang keutamaan seseorang, biasanya diikuti dengan membuat hadits palsu terkait kejelekan lawan politiknya
Ya, itulah masalahnya memang. Seringkali politisasi ayat dan hadis untuk melegitimasi kekuasaan atau sebaliknya, mendelegitimasi, lawan-lawan politik seringkali tidak nyambung satu sama lain. Namun imajinasi kekuasaan membuat seolah menjadi tersambung antara peristiwa perebutan politik dengan berbagai riwayat yang ada
Salah satu sosok yang banyak dipuji-puji dalam hadits palsu adalah Ali bin Abi Thalib. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) meriwayatkan dalam bukunya Al-Maudhu'at:
عن يحيى بن معِين يَقُول وَسُئِلَ عَن الْعَلَاء بن عبد الرحمن فَقَالَ أحسن أَحْوَاله عِنْدِي أَنه قيل لَهُ عِنْد مَوته أَن لَا تستغفر الله؟ قَالَ لَا أَرْجُو أَن يغْفر الله لي، فقد وضعت فِي فضل عَليّ بن أبي طَالب سبعين حَدِيثا. (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 339)
Dari Yahya bin Main ketika ditanya tentang Ala’ bin Abdurrahman. Saya telah membuat 70 haris palsu seputar keutamaan Ali bin Abu Thalib. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 339).
Salah satu contoh hadits palsu berkaitan dengan Ali bin Abu Thalib adalah:
قَالَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "النَّظَرُ إِلَى عَلِيٍّ عِبَادَةٌ". (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 339)
Melihat Ali bin Abu Thalib adalah sebuah ibadah. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 339).
Bisa dikatakan yang sering membuat hadits palsu seputar Ali bin Abu Thalib adalah kalangan syiah Rafidhah. Selain memalsukan hadits berkaitan dengan keutaaman Ali bin Abu Thalib, mereka juga membuat hadits palsu berkaitan dengan celaan terhadap shahabat Nabi yang lain.
Sayangnya ada sebagian orang, demi membela shahabat Nabi yang dikritik syiah, membalasnya dengan hadits palsu juga.
Diantaranya, hadits palsu:
"مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلا مَكْتُوبٌ عَلَى وَرَقَةٍ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ عُمَرُ الْفَارُوقُ عُثْمَانُ ذُو النُّورَيْنِ". (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 337)
Tak ada satupun daun di surga, kecuali ada tulisannya “Muhammad Rasulullah, Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khattab dan Utsman dzun nurain. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 337).
Termasuk banyak berkembang hadits palsu seputar keutamaan Muawiyah bin Abu Sufyan, yang bisa dikatakan sebagai lawan politik dari Ali bin Abu Thalib. Kebannyakan hadits ini diutarakan pada masa kekuasaan Muawiyah oleh pendukung-pendukungnya. Diantaranya:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مُعَاوِيَةُ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ كَتَبَ لَكَ مِنَ الثَّوَابِ بِعَدَدِ كُلِّ مَنْ يَقْرَأُ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ سَاعَةِ كَتْبِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة" (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 2/ 16)
Nabi bersabda: Wahai Muawiyah, sesungguhnya Allah telah menulis bagimu pahala setiap orang yang membaca ayat kursi dari mulai ditulis sampai hari kiamat. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 2/ 16)..
Begitu pula di masa awal Abbasiyah yang berbalik banyaknya riwayat mencela Muawiyah. Misalnya adalah penafsiran tentang “pohon yang terkutuk” pada surat al-Isra ayat 60. Sebagian mufassir mengatakan ini pohon zaqqum di neraka. Namun ada yang menyebutkan bahwa yang dimaksud pohon zaqqum ini adalah Dinasti Umayyah.
Tafsir Qurthubi dan Ruhul Ma’ani dari Imam al-Alusi mencantumkan riwayat Ibnu Murdawaih bahwa suatu saat Aisyah berkata kepada Marwan bin Hakam: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda pada ayah dan kakekmu: “Kalian adalah pohon yang terkutuk dalam al-Qur’an.” Tafsir Ibn Katsir mengatakan riwayat semacam ini lemah dan aneh.
Tafsir al-Thabari mengabarkan ada riwayat bahwa Rasulullah SAW melihat “dinasti fulan” melompat-lompat di atas mimbar beliau bagaikan kera, perbuatan mereka itu membuat beliau marah sehingga sejak itu sampai wafat beliau tidak pernah berkumpul bersama mereka sambil tertawa.
Kadang juga ada hadits palsu yang diciptakam untuk menjilat penguasa. Bagaimana seorang hakim bernama Abul Bakhtari berupaya menjilat Khalifah Harun ar-Rasyid, yang menyenangi burung merpati. Maka sang hakim membacakan riwayat: “tidak ada perlombaan kecuali memanah, pacuan kuda dan merpati.” Aslinya dalam hadits itu tidak ada soal burung merpati, tetapi dia tambahkan untuk menyenangkan Khalifah. Harun ar-Rasyid kemudian memberi dia hadiah.
Begitu sang hakim keluar dari ruangan, Harun berkata: “Demi Allah, aku tahu dia sudah berbohong.” Lantas bukannya sang hakim dicopot atau dihukum, malah diberi hadiah. Bahkan Khalifah memerintahkan burung merpati disembelih. Saat ditanya, “apa salahnya burung merpati?” Jawab Harun: “karena gara-garanya ada orang yang berdusta atas nama Rasulullah.”
Kecintaan berlebih terhadap suatu tokoh biasanya diikuti dengan kebencian berlebih kepada lawannya. Termasuk pembuat hadits palsu tentang keutamaan seseorang, biasanya diikuti dengan membuat hadits palsu terkait kejelekan lawan politiknya
Ya, itulah masalahnya memang. Seringkali politisasi ayat dan hadis untuk melegitimasi kekuasaan atau sebaliknya, mendelegitimasi, lawan-lawan politik seringkali tidak nyambung satu sama lain. Namun imajinasi kekuasaan membuat seolah menjadi tersambung antara peristiwa perebutan politik dengan berbagai riwayat yang ada

Komentar
Posting Komentar