“Jangan kau
berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah
itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak
menerima; kau akan membuat mereka salah arah” –Maulana Jalaluddin Rumi
Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup
di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku,
budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan.
Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih
berkoar –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya
sendiri dengan saudara yang lainnya.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13)
Padahal jelas
bahwa Allah SWT menciptakan setiap manusia dengan berbagai keberagaman untuk
saling mengenal satu sama lain dan saling belajar diantara perbedaan. Padahal
jelas founding father kita menyerukan semboyan Bhinneka Tunggal Ika,
berbeda-beda namun satu. Padahal jelas jika dirinya dengan yang lainnya
berbeda, apapun perbedaan itu. Tapi kenapa sebagian dari kita masih menutup
mata? Seolah semuanya sama dan yang berbeda harus dimusuhi. Bukankah
perbedaan itu untuk disatukan, bukan disamakan. Ingat! berbeda-beda
tapi “satu”. Bukan berbeda-beda tapi “sama”.
Buya Hamka pernah mengatakan “lihatlah orang lain dengan kacamata hakikat, tapi
lihatlah diri kita sendiri dengan kacamata syari’at”, dengan begitu kita semua
akan lebih mudah instrospeksi diri ketimbang sibuk mencaci maki. Maka
kenapa kita tidak mencoba untuk melihat saudara setanah air kita dalam kacamata
manusia? Bukan dengan segala perbedaan yang melekat padanya. Karena sejatinya
manusia sudah jelas berbeda antar satu dengan yang lainnya.
Sebagai manusia, kita wajib untuk memanusiakan manusia. Pola pandang ini
sepertinya diajarkan oleh semua agama dan keyakinan, tapi jelas masih sedikit
yang mampu mengamalkan. Ketika saudara kita ada yang berbuat salah, kenapa
tidak kita ingatkan dengan rangkulan yang ramah? Bukan dengan pukulan dan
amarah. Ketika ada pendapat yang berbeda dengan sebagian dari kita, kenapa
tidak kita bicarakan dengan diskusi kekeluargaan? Bukan dengan persekusi
berkelanjutan. Ingatlah bahwa kita semua masih manusia. Bukan malaikat, juga
bukan syaitan. Tapi kerap kali menjadi syaitan berbaju Malaikat Ridwan.
Perlu diakui
memang jika kondisi masyarakat saat ini berbeda dengan zaman dahulu, ketika
berkirim pesan harus menggunakan surat dan menunggu berhari-hari agar surat
sampai pada tujuan. Di era milennial seperti sekarang, pertukaran informasi
jauh lebih mudah. Sangat bermanfaat, namun tak jarang menjadi mudhorot.
Dunia digital seolah menjadi replika kehidupan. Media massa dan media sosial
penuh dengan lalu lalang kehidupan “semu”. Jika di dunia nyata manusia dapat
bertatap muka, di sosial media juga dapat berinteraksi. Namun sosial media
seolah lebih ganas mengaplikasikan hukum rimba.
“Pena bisa jadi lebih tajam daripada pedang. Jika pedang dapat
membunuh seorang lawan, maka pena dapat memecah persatuan, merusak akal
pemikiran, dan perang antar kawan”
Media sosial
saat ini menjadi ajang kompetisi unjuk kebolehan, dengan cara nyinyir tak
karuan dan berlomba mencipta berita kepalsuan (hoaks). Media sosial terbukti
dapat menjadi pemecah belah persatuan, hal ini seperti yang terjadi ketika
krrisis kemanusiaan di Rohingya. Raksasa media sosial dengan pengguna lebih
dari 1 milyar orang di seluruh dunia—Facebook—mengakui ikut berperan dalam
genosida Etnis Rohingya (sumber : VOA Indonesia). Hal ini terjadi bukan
disengaja oleh Facebook, tapi hal ini terjadi melalui proses penyebaran isu
kebencian golongan dan permusuhan yang disebar oleh oknum-oknum kurang
pemahaman melalui jejaring media sosial Facebook. Sungguh mengerikan jika
melihat kekuatan media sosial untuk menggiring opini publik hingga berakhir
pada krisis kemanusiaan dan genosida Etnis Rohingya di Myanmar.
Perkembangan
teknologi seyogyanya juga diimbangi dengan perkembangan pemahaman. Ukhuwah
Insaniyah atau Brotherhood Humanities juga harus diterapkan dalam interaksi di
dunia digital. Mari kita perdalam pemahaman, perluas pola pikir, dan perbanyak
sudut pandang. Karena manusia diciptakan untuk saling bersaudara, bukan saling
perang saudara. Semoga Indonesia tetap aman, sehingga kita semua bisa
beraktivitas dan beribadah dengan tenang. Semoga Allah SWT mengampuni semua
salah dan dosa kita sebagai manusia.

Komentar
Posting Komentar