Senja yang cerah, Mbah Uwais termangu menunggu sembari duduk di kursi panjang yang telah disediakan. Di genggaman rapuhnya, kusut tersemat kertas tiket perjalanan kereta tua yang telah lusuh. Sudah berjam-jam lamanya ia menunggu sendiri. Ia lupa sudah berapa lama. Terlalu aneh memang bagi seorang kakek renta untuk menunggu sendirian di sebuah stasiun yang ramai berlalu lalang orang-orang yang tak dikenalnya. “Orang-orang asing yang aneh,” begitu gumamnya. Namun ia sudah bertekad, kesempatan ini harus menjadi momen berharga yang tak boleh ada seorang pun dari anak maupun cucunya yang bisa mengganggunya. Ia sudah gerah diperlakukan seperti anak kecil. Hari itu, Mbah Uwais akan bertemu dengan teman masa mudanya. Tanpa ia pernah duga, pundaknya ditepuk lemah oleh seseorang. Seorang yang lama dinanti-natinya. Mbah Uwais pun tersenyum menyapa. “Hei, Azhar! Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama.” Entah sudah berapa puluh tahun mereka tak pernah bertemu, namun Mbah ...
"Senja bukanlah awal mula, tapi juga bukan akhir cerita. Senja tak pernah lama, hanya sebentar kemudian kembali tiada. Senja memang bukan pemancar energi, namun bagiku tempat merefleksi diri kembali. Senja adalah saat terindah untuk berserah diri, pada Ilahi Rabbi. Di senja hari, mari saling introspeksi. Monggo ngopi."