![]() |
| Hijrah, A Move to be Better |
Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan. Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.
Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebagai awal penanggalannya. Maka jangan heran jika inilah saat yang tepat untuk kembali berhijrah selayaknya Nabi Muhammad melakukannya dulu.
Dalam konteks sejarah, hijrahnya Nabi disebabkan karena gangguan yang bertubi-tubi dari Kaum Quraisy Kota Makkah yang dialamatkan kepada Rasulullah dan para sahabat Muhajirin. Sehingga keadaan yang sudah tidak lagi kondusif untuk berdakwah tersebut mengharuskan Nabi untuk berhijrah menuju tempat yang lebih aman. Sebuah kota dimana para pengikut Nabi yang sudah berbai’at telah menunggu dan siap menyambut kehadiran beliau. Sebuah Kota bernama Yatsrib yang setelah peristiwa hijrah ini berubah nama menjadi Kota Madinah.
Dalam konteks akidah dan keyakinan, makna hijrah sendiri memiliki cakupan yang begitu luas dan global. Namun sebagaimana yang difahami secara umum, hijrah adalah berpindah dari keadaan yang awalnya buruk menuju keadaan yang baik, ataupun dari kondisi yang awalnya baik menjadi lebih baik lagi.
Jadi hijrah adalah sebuah “proses” yang terus menerus untuk memperbaiki diri tanpa henti. Baik itu memperbaiki diri dari segi cara berfikir, memperbaiki diri dari segi cara berucap ataupun memperbaiki diri dari segi cara bersikap. Hal ini berlaku kepada siapa pun. Bahkan oleh orang yang ahli ibadah sekali pun. Karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam hatinya. Entah itu sebuah rasa bangga, riya’ atau yang lainnya.
Maka dari itu, seyogyanya tidak ada istilah ‘telah berhijrah’, yang ada adalah istilah ‘sedang berhijrah’. Karena hijrah itu adalah sebuah proses. Sampai kapan pun itu akan tetap berlangsung di tiap-tiap fase kehidupan seorang hamba.
Namun, kembali lagi. Makna kebaikan yang dituju dalam hijrah ini pun juga begitu bias. Karena kebaikan bagi seorang individu belum tentu juga merupakan kebaikan bagi individu yang lain. Gesekan antara term ‘kebaikan’ ini pun akan semakin meluas ketika tidak lagi mencakup antar individu, namun juga antara individu dengan kelompok. Bahkan bisa juga antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Poin terakhir ini yang agaknya paling remang-remang. Dan akhirnya berujung mengerikan.
Ya, harus kita akui, hakikat dari sebuah kebaikan ataupun kebenaran merupakan sebuah subjektivitas semata. Semua ini masih tergantung dari keyakinan masing-masing individu atau kelompok.
Tentunya ini wajar saja karena perbedaan keyakinan serta perspektif sudut pandang adalah sebuah rahmat. Namun yang jadi masalah adalah, jika hijrah yang telah membawanya menuju kebaikan berdasar sebuah perspektif ternyata malah mengganggu dan menuduh kebaikan yang diyakini dan telah dilakukan perspektif lain. Apakah mereka telah salah kaprah hijrah?
Sebagaimana kita sadari, fenomena hijrah dewasa ini begitu gencar terjadi. Baik dari kalangan anak muda, remaja sampai para artis selebrita—semoga niatnya benar-benar bersih dan tulus. Namun niat kuat yang menggebu-gebu untuk berubah menjadi lebih baik ini sayangnya tak dibarengi dengan semangat yang sungguh dalam menuntut ilmunya. Semangat menuntut ilmu mungkin ada, namun cenderung lebih memilih cara yang instan dan terkesan tak mau susah payah dalam menelaah dan menganalisanya. Semua yang disodorkan ia telan bulat-bulat tanpa ada penyaringan di hati nuraninya.
Hal ini dapat dilihat paling tidak dari sekedar usaha mencari sumbernya. Ketika ditanya asalnya, mereka ringkas saja merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ia tak mengakui adanya Ijma’ dan Qiyas para ulama’. Ia mungkin juga tak memahami adanya Naskh dan Mansukh, Mujmal dan Mubayyan, Tarjih, Al-Jam’u wat Taufiq atau bahkan Tatsaquth Dalilain yang berseliweran di antara banyak sekali nash dalil yang ada.
Para pelaku hijrah mungkin tak salah, namun tokoh yang dijadikan acuan oleh mereka yang berhijrah—yang lugu tak tahu apa-apa—inilah yang menyebabkan gesekan terasah menjadi semakin tajam. Mereka mengarahkan keterombang-ambingan dan kebimbangan si hampa yang tak tahu arah ini kepada tujuan yang mereka harapkan. Di sinilah, sekali lagi harus benar-benar kita akui betapa pentingnya memilih cara hijrah, dalam hal ini berupa sosok teladan dan panutan.
Lalu dari hijrah instan—semoga kita terhindar darinya—semacam ini timbul perasaan tak adanya jiwa tenggang rasa yang awalnya dulu ada. Tak adanya jiwa menghargai perbedaan yang nyata adanya. Istilahnya, merasa paling benar sendiri.
Ya, sebelum hijrah mereka cenderung merengek-rengek bertaubat dengan segenap penyesalan yang tulus dari hati. Mereka berujar: Saya salah, saya berdosa, saya penuh dosa. Kemudian setelah berhijrah—atau sedang berhijrah—mereka berujar: Kalian salah, kalian berdosa, kalian penuh dosa. Apakah banyak yang seperti ini? Silahkan direnungkan kembali. Wallahu A’lam bis Showwab.
Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebagai awal penanggalannya. Maka jangan heran jika inilah saat yang tepat untuk kembali berhijrah selayaknya Nabi Muhammad melakukannya dulu.
Dalam konteks sejarah, hijrahnya Nabi disebabkan karena gangguan yang bertubi-tubi dari Kaum Quraisy Kota Makkah yang dialamatkan kepada Rasulullah dan para sahabat Muhajirin. Sehingga keadaan yang sudah tidak lagi kondusif untuk berdakwah tersebut mengharuskan Nabi untuk berhijrah menuju tempat yang lebih aman. Sebuah kota dimana para pengikut Nabi yang sudah berbai’at telah menunggu dan siap menyambut kehadiran beliau. Sebuah Kota bernama Yatsrib yang setelah peristiwa hijrah ini berubah nama menjadi Kota Madinah.
Dalam konteks akidah dan keyakinan, makna hijrah sendiri memiliki cakupan yang begitu luas dan global. Namun sebagaimana yang difahami secara umum, hijrah adalah berpindah dari keadaan yang awalnya buruk menuju keadaan yang baik, ataupun dari kondisi yang awalnya baik menjadi lebih baik lagi.
Jadi hijrah adalah sebuah “proses” yang terus menerus untuk memperbaiki diri tanpa henti. Baik itu memperbaiki diri dari segi cara berfikir, memperbaiki diri dari segi cara berucap ataupun memperbaiki diri dari segi cara bersikap. Hal ini berlaku kepada siapa pun. Bahkan oleh orang yang ahli ibadah sekali pun. Karena kita tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam hatinya. Entah itu sebuah rasa bangga, riya’ atau yang lainnya.
Maka dari itu, seyogyanya tidak ada istilah ‘telah berhijrah’, yang ada adalah istilah ‘sedang berhijrah’. Karena hijrah itu adalah sebuah proses. Sampai kapan pun itu akan tetap berlangsung di tiap-tiap fase kehidupan seorang hamba.
Namun, kembali lagi. Makna kebaikan yang dituju dalam hijrah ini pun juga begitu bias. Karena kebaikan bagi seorang individu belum tentu juga merupakan kebaikan bagi individu yang lain. Gesekan antara term ‘kebaikan’ ini pun akan semakin meluas ketika tidak lagi mencakup antar individu, namun juga antara individu dengan kelompok. Bahkan bisa juga antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Poin terakhir ini yang agaknya paling remang-remang. Dan akhirnya berujung mengerikan.
Ya, harus kita akui, hakikat dari sebuah kebaikan ataupun kebenaran merupakan sebuah subjektivitas semata. Semua ini masih tergantung dari keyakinan masing-masing individu atau kelompok.
Tentunya ini wajar saja karena perbedaan keyakinan serta perspektif sudut pandang adalah sebuah rahmat. Namun yang jadi masalah adalah, jika hijrah yang telah membawanya menuju kebaikan berdasar sebuah perspektif ternyata malah mengganggu dan menuduh kebaikan yang diyakini dan telah dilakukan perspektif lain. Apakah mereka telah salah kaprah hijrah?
Sebagaimana kita sadari, fenomena hijrah dewasa ini begitu gencar terjadi. Baik dari kalangan anak muda, remaja sampai para artis selebrita—semoga niatnya benar-benar bersih dan tulus. Namun niat kuat yang menggebu-gebu untuk berubah menjadi lebih baik ini sayangnya tak dibarengi dengan semangat yang sungguh dalam menuntut ilmunya. Semangat menuntut ilmu mungkin ada, namun cenderung lebih memilih cara yang instan dan terkesan tak mau susah payah dalam menelaah dan menganalisanya. Semua yang disodorkan ia telan bulat-bulat tanpa ada penyaringan di hati nuraninya.
Hal ini dapat dilihat paling tidak dari sekedar usaha mencari sumbernya. Ketika ditanya asalnya, mereka ringkas saja merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ia tak mengakui adanya Ijma’ dan Qiyas para ulama’. Ia mungkin juga tak memahami adanya Naskh dan Mansukh, Mujmal dan Mubayyan, Tarjih, Al-Jam’u wat Taufiq atau bahkan Tatsaquth Dalilain yang berseliweran di antara banyak sekali nash dalil yang ada.
Para pelaku hijrah mungkin tak salah, namun tokoh yang dijadikan acuan oleh mereka yang berhijrah—yang lugu tak tahu apa-apa—inilah yang menyebabkan gesekan terasah menjadi semakin tajam. Mereka mengarahkan keterombang-ambingan dan kebimbangan si hampa yang tak tahu arah ini kepada tujuan yang mereka harapkan. Di sinilah, sekali lagi harus benar-benar kita akui betapa pentingnya memilih cara hijrah, dalam hal ini berupa sosok teladan dan panutan.
Lalu dari hijrah instan—semoga kita terhindar darinya—semacam ini timbul perasaan tak adanya jiwa tenggang rasa yang awalnya dulu ada. Tak adanya jiwa menghargai perbedaan yang nyata adanya. Istilahnya, merasa paling benar sendiri.
Ya, sebelum hijrah mereka cenderung merengek-rengek bertaubat dengan segenap penyesalan yang tulus dari hati. Mereka berujar: Saya salah, saya berdosa, saya penuh dosa. Kemudian setelah berhijrah—atau sedang berhijrah—mereka berujar: Kalian salah, kalian berdosa, kalian penuh dosa. Apakah banyak yang seperti ini? Silahkan direnungkan kembali. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar
Posting Komentar