Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Dunia Butuh Pesantren

Ilustrasi Dimana-mana, dunia akademisi seakan lebih dipuja-puja, apalagi menjelang tahun ajaran baru ini. Bagaimana tidak, dari anak pejabat, anak konglomerat, sampai anak kuli berbondong-bondong mendaftar masuk kuliah. Banyak yang berbahagia setengah mati saat diterima di perguruan tinggi yang diinginkan. Jika gagal pun juga ada yang sampai benar-benar mati gara-gara bunuh diri. Saya Jadi menerka-nerka. Jangan-jangan para petinggi di Perguruan tinggi ternama tersebut main mata dengan Tuhan agar bersedia memastikan cerahnya masa depan mereka. Atau jangan-jangan mereka malah melangkahi kehendak-Nya, seakan-akan mereka mempunyai paket istimewa masa depan sesuai dengan   kemampuan finansial siswa masing-masing. Ketika kita lulus SMA atau sederajatnya, saya yakin bahwa akan terbesit di benak kita walau sekecil apapun untuk melanjutkan kuliah. Wajar memang, karena kuliah saat ini telah bermetamorfosis menjadi sebuah tuntutan zaman. Banyak elemen masyarakat, apalagi perkotaan ...

SENJA TERAKHIR RAMADHAN, INTROSPEKSI RUTINITAS DIRI SELAMA SATU BULAN

Gaung kebahagiaan dan kemeriahan takbir hari raya lamat-lamat terdengar di senja terakhir bulan Ramadhan ini, akhirnya lengkap sudah sebulan penuh ‘penderitaan’ kita menahan lapar dan dahaga. Selama satu bulan kita juga diharuskan mengekang hawa nafsu kita selama berpuasa. Produk hawa nafsu selain lapar dan dahaga—sebut saja amarah, emosi, dusta, serakah dan sebangsanya—pun juga menjadi ‘korban’ bulan Ramadhan ini. Sungguh bulan yang berat. Dan akhirnya kini semua telah berakhir. Ada yang bergembira menyongsong tibanya Hari Kemenangan ini. Setiap akhir Ramadhan pun selalu terasa euforia kebahagiaan di mana-mana. Ya, ia selalu merasa bahagia. Ternyata ada pula yang bersedih atas kepergian bulan Ramadhan ini, tentunya momen Ramadhan ini selalu membekas. Banyak kenangan indahnya Ramadhan tentunya yang juga akan berlalu, seperti saat buka bersama siapapun yang spesial bagi kita, saat berburu takjil, saat sholat tarawih di surau-surau dan banyak lagi. Banyak pula kemurahan Tuhan...

KAGUM KEPADA YANG BIASA DENGAN BIASA MENGHADAPI KEKAGUMAN

Sejak dahulu, lingkungan pesantren mengajarkan banyak nilai-nilai keagamaan khas salaf yang asri. Dari yang sederhana sampai yang kompleks . Dari rukun islam, aqoid 50 , dan do’a-do’a wajib sampai yang sulit seperti ilmu balaghah, mantiq, faraidl dan sebagainya. Soal beribadah pun santri sudah digembleng sejak dini oleh kyai. Hukuman ta’ziran selalu membayangi jika si santri bermalas-malasan apalagi melanggar peraturan pesantren. Semua itu membuat kita terbiasa dengan hal-hal soal keagamaan semacam itu. Sungguh indah. Pendidikan dan ‘gemblengan-gemblengan’ sedari kita kecil tersebut tanpa disadari telah mengajarkan banyak hal yang baru terpikirkan akhir-akhir ini. Bahwa segala hal yang bersifat suatu kewajiban kita sebagai hamba, sudah seharusnya dan sewajarnya jika kita laksanakan. Kita sebagai manusia memang diciptakan untuk beribadah. Itu sudah biasa. Yang luar biasa adalah apabila kewajiban ibadah itu ditambah dengan amalan-amalan lain yang menyempurnakan ibadah tersebut...