Langsung ke konten utama

KAGUM KEPADA YANG BIASA DENGAN BIASA MENGHADAPI KEKAGUMAN



Sejak dahulu, lingkungan pesantren mengajarkan banyak nilai-nilai keagamaan khas salaf yang asri. Dari yang sederhana sampai yang kompleks. Dari rukun islam, aqoid 50, dan do’a-do’a wajib sampai yang sulit seperti ilmu balaghah, mantiq, faraidl dan sebagainya. Soal beribadah pun santri sudah digembleng sejak dini oleh kyai. Hukuman ta’ziran selalu membayangi jika si santri bermalas-malasan apalagi melanggar peraturan pesantren. Semua itu membuat kita terbiasa dengan hal-hal soal keagamaan semacam itu. Sungguh indah.

Pendidikan dan ‘gemblengan-gemblengan’ sedari kita kecil tersebut tanpa disadari telah mengajarkan banyak hal yang baru terpikirkan akhir-akhir ini. Bahwa segala hal yang bersifat suatu kewajiban kita sebagai hamba, sudah seharusnya dan sewajarnya jika kita laksanakan. Kita sebagai manusia memang diciptakan untuk beribadah. Itu sudah biasa. Yang luar biasa adalah apabila kewajiban ibadah itu ditambah dengan amalan-amalan lain yang menyempurnakan ibadah tersebut. Sayangnya, kebanyakan dari kita justru sangat jarang menyadarinya.

Faktanya saat ini, banyak dari kita telah lalai dan akan menjadi heran dan kagum dengan orang yang rajin sholat dan merasa biasa saja dengan orang yang ibadah sholat atau puasanya bolong-bolong. Padahal sholat itu sudah merupakan kewajiban masing-masing kita sebagai umat Islam. Jadi sebenarnya tak ada yang perlu dikagumi dan diherankan. Yang harusnya diherankan itu adalah kita sendiri yang belum bisa serajin dan sesemangat ahli ibadah tersebut. Yang harusnya diherankan adalah kita yang justru ibadahnya jarang dikerjakan karena kesibukan dunia sehingga jauh tertinggal tabungan akhiratnya dibanding mereka yang rajin. Kemudian, sebagai orang awam apa yang harus kita lakukan ke depannya ?

Caranya yakni cukup dengan memantaskan diri kita untuk tidak nggumun terhadap orang lain. Membuat diri kita selevel dengan mereka, tapi juga tetap rendah hati tentunya. Bukankah ketika kita bisa serajin dan sesemangat itu dalam beribadah tidak akan timbul sikap ‘kekaguman’ dan nggumun seperti itu? Bukankah tidak akan heran orang yang yang telah terbiasa dengan suatu hal, jika melihat orang lain yang sama sepertinya?

Disini kita bisa membedakan antara sesuatu yang biasa dan yang mulia. Biasa karena sudah merupakan keharusan, dan mulia karena merupakan suatu hal yang bukan keharusan tapi sebenarnya berfungsi sebagai nilai lebih kepada Sang  Khaliq.

Misalnya saja, istiqomah sholat fardhu itu biasa, tapi istiqomah sholat rawatib itu yang mulia. Menunaikan zakat itu biasa, tapi infaq dan shadaqah itu yang luar biasa dan mulia. Puasa Ramadhan itu biasa, tapi sanggup istiqomah  puasa senin kamis dan puasa sunnah lain itu yang mulia. Di pesantren, kita diajarkan menjadi manusia-manusia yang mulia, baik di hadapan  Allah maupun sesama manusia.

Menghadapi polemik dunia modern saat ini, santri dituntut untuk mengikuti arus dan bahkan menguasainya, asalkan tidak sampai hanyut. Apalagi akhir-akhir ini isu agama dan ras sangat sensitif sekali untuk dibahas. Dimana orang yang tak faham ilmu agama—karena bukan latar belakang pendidikannya—seakan mendadak menjadi ahli agama, bahkan ada yang sampai berani menghina ulama’ ahli agama. Dimana orang merasa hebat atas yang lain dan berusaha menyingkirkan yang menurutnya mengganggu, meskipun itu ‘tuhan’ sekalipun. Dimana orang membuat aturan sendiri berdasarkan kepentingan dan keinginan mereka. Segelintir dari orang-orang ini bergerilya dengan kedok agama memelintir aturan langit yang ada sesuka hatinya. Sehingga akhir-akhir ini banyak yang mudah tertipu oleh mereka yang suka berkoar di media. Berita bohong atau hoax yang kebanyakan merupakan ujaran kebencian, mengelu-elukan junjungan kelompok dan merendahkan kelompok lain pun terbang saling terjang.

Kita harusnya khawatir dengan kejadian-kejadian yang semakin marak ini. Pasalnya, hoax pun hampir tiap hari muncul di media. Entah itu televisi, youtube, instagram, whatsapp ataupun situs-situs internet lain. Hal yang sangat disayangkan jika banyak dari kita—terutama kaum Islam awam yang mengetahui agama hanya dari TV dan google—menjadi salah mengartikan banyak hal karena orang-orang yang tak bertanggung jawab ini. Bahkan saking nggumun dan terpengaruhnya kita, tanpa mencari klarifikasi banyak yang ikut-ikutan men-share berita yang tak jelas sumbernya tersebut ke kerabat kita. Kita pun bukan hanya termakan berita hoax, tapi juga turut andil menyebarkannya. Kita bukan hanya sebagai korban tapi juga pelaku.

Dari sinilah, ternyata kebiasaan khas salaf dan lingkungan pesantren berperan sangat penting bagi sudut pandang dan cara berfikir kita saat ini. Terutama soal ‘kekaguman’ dan mudah terpengaruhnya kita dengan hal yang tak perlu dikagumi. Karena anak kecil di pesantren sudah dibiasakan mengaji, maka—harusnya—tidak akan mungkin jika salah satu dari anak pesantren sampai kagum terhadap temannya karena tiap hari berangkat sama-sama ke TPQ. Wong sudah biasa dan menjadi kebiasaan umum kok.

Dalam hidup, kita sebenarnya tidak mencari ‘siapa’ yang benar dan ‘siapa’ yang salah, tapi ‘apa’ yang benar dan ‘apa’ yang salah. Karena sejatinya manusia pastilah ada salah dan luputnya. Seringkali seseorang yang terlalu fanatik terhadap suatu tokoh, mereka akan selalu membenarkan apapun yang dilakukan oleh pujaannya. Terlebih lagi, mereka akan cenderung menyalahkan dan menentang tokoh lain yang tidak sepemikiran dengan si tokoh pujaan. Padahal ini keliru. Maka kita harus mengambil yang baik-baik dan membuang yang buruk dari tokoh pujaan kita serta tak perlu memutlakkan fanatisme. Kecuali fanatisme kepada Baginda Rasulillah Muhammad, karena ia-lah satu-satunya manusia yang sempurna baik secara dzohir maupun bathin penciptaannya.

Santri sebagai elemen pesantren yang merupakan basis terbesar kader-kader muda agama islam, seharusnya mampu bersikap biasa dan tidak kagetan menghadapi berbagai macam isu ini. Alangkah baiknya jika kita menjadi pribadi yang netral dan tak memihak sesuai dengan konsep tawassuth dalam Islam. Santri yang sudah terbiasa patuh dan mengagumi ulama’ sesepuh pastinya tidak akan mudah tersulut panas oleh berita-berita miring, walaupun berita tersebut menyinggung kita. Api yang membara pun akan padam oleh air yang menyejukkan.

Lalu, yang jadi masalah dan sepertinya pantas untuk digumuni adalah ujaran kebencian yang saling menjatuhkan pada lawan serta pujian pada atasan dalam hoax tersebut. Takutnya tujuan adanya hoax bukan hanya untuk ‘mempromosikan’ kelompok pribadi masing-masing. Tapi lebih kepada maksud yang lebih ambisius. Kekuasaan misalnya. Sepertinya hal itu yang terjadi di negeri kita saat ini. Wallahu A’lam bis Showwab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...