Our Beloved Building Gedung asrama kami memang tak begitu megah, namun di sana ada berbagai kisah indah. Terlukis begitu saja. Tanpa terasa kami berproses, tumbuh besar dan menjalin asmara bersama dalam naungan gedung asrama yang sama. Dulu, tiap malam canda dan tawa kami tumpah ruah. Cangkir-cangkir kopi malam berdentingan di antara kejauhan membentuk kepulan melodi menggugah. Seruput demi seruput tak terasa semakin mengasah secercah cerah. Percakapan-percakapan kami seringkali menggaungkan resah. Namun akan selalu teringat, akan tiba masanya percakapan itu menjadi susah diterjemah. Membuncah dalam desah. Karena keresahan itu ditanggung bersama tanpa banyak tingkah. Aku rindu saat-saat dulu ku merengek gundah, lalu ku temukan tempat bersandar lelah. Dan jika ku katakan bahwa aku mengharapkannya juga saat ini, sungguh aku tak tahu lagi harus mengutarakannya kepada siapa. Kini aku merasa seakan jarak sudah semakin mengaburkan realita dengan asa. Asa tersebu...
"Senja bukanlah awal mula, tapi juga bukan akhir cerita. Senja tak pernah lama, hanya sebentar kemudian kembali tiada. Senja memang bukan pemancar energi, namun bagiku tempat merefleksi diri kembali. Senja adalah saat terindah untuk berserah diri, pada Ilahi Rabbi. Di senja hari, mari saling introspeksi. Monggo ngopi."