Langsung ke konten utama

KISAH SEORANG AHLI YANG KALAH SAING

Who's Better ?



Kang Uwais baru saja keluar dari salah satu pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Selain itu, ia juga masih berstatus fresh graduate dari salah satu perguruan tinggi yang kebetulan berafiliasi dengan pesantren tersebut. Bahkan beberapa tahun sebelumnya, ia sudah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan santri di banyak pesantren di penjuru Jawa. Bisa dibilang, dia adalah santri idaman nan teladan yang juga terasah sisi akademisnya. Sungguh sebuah kriteria tepat di masa yang tepat. Saat di mana sedang manis-manisnya buah itu matang dan siap dipetik dari pohonnya. Ah, Kang Uwais sudah siap untuk menantang dunia.
Dalam perjalanannya, ia sudah banyak berkhidmat dan berjuang untuk pesantren. Atas berkat pengabdian yang tak kenal lelah itulah, Pak Kyai begitu menyayangi Kang Uwais. Kang Uwais bahkan pernah ditawarkan untuk dijodohkan saja dengan anak Pak Kyai, atau paling tidak dengan salah satu santriwatinya. Sungguh kisah yang indah jika benar-benar terlaksana.
Namun itu berarti ia harus tetap tinggal di pesantren untuk meneruskan perjuangan Pak Yai di pesantren tersebut. Apa daya, dengan berat hati Kang Uwais menolaknya. Jauh dalam benaknya, ia masih terngiang-ngiang pesan almarhumah Emaknya. Sebuah pesan yang selalu diwanti-wanti sejak lama semenjak ia beranjak menuju gerbang pesantren pertamanya. Emaknya ingin agar anaknya berjuang di lingkungan daerah kampungnya sendiri yang masih banyak masyarakat awam di sana. Emaknya merasa masyarakat kampung lebih membutuhkan sosok yang diteladani. Kang Uwais merasa berdosa jika ia mengabaikan pesan almarhumah Emaknya ini.
Maka di sinilah Kang Uwais. Seorang ahli agama idaman yang berstatus fresh graduate kembali harus bergelut di kampungnya sendiri setelah amat sekian lama ia meninggalkannya. Sebuah kampung semi-kota di daerah Jawa Tengah. Disebut semi-kota, karena jika disebut kampung, di sana tidak deso-deso amat, disebut kota pun juga masih sangat jauh dari kesan itu. Setengah desa setengah kota-lah. Apa pun itu, demi emak kesayangannya ia siap untuk mengabdikan dirinya di sana.
Pada dasarnya ia sendiri juga kurang begitu memahami kultur di kampung almarhumah Emaknya ini. Maklum, ia sudah begitu lama tinggal di pesantren. Dan lagi, semenjak Emaknya meninggal karena sakit lambung yang mendadak, setiap liburan pesantren Kang Uwais hanya pulang ke rumah pamannya yang kebetulan rumahnya lebih dekat jaraknya dari pesantren. Kang Uwais benar-benar sudah terbiasa hidup secara keras seperti ini. Justru itulah yang membentuk kepribadiannya.
Namun malang, sesampainya di kampung halaman yang sudah dinanti-nantikannya ini. Ia baru menyadari akan fakta yang memilukan. Bahwa sebenarnya ia tidak begitu dinanti-nantikan. Di sana sudah ada seorang tokoh yang sangat dijadikan panutan oleh masyarakat di sana. Nama tokoh tersebut adalah Ustadz Sludrun.
Awalnya Kang Uwais sama sekali tak masalah jika ternyata sudah ada orang lain yang berjuang di kampung halamannya. Namun prasangka baik tersebut menghilang secara tiba-tiba saat menyadari bahwa Ustadz Sludrun sama sekali tak memiliki kediaman di kampung tersebut. Kediaman Ustadz Sludrun jauh berdiri di pusat Ibu Kota. Ia terkaget-kaget mendengar kenyataan ini dari seorang warga ketika ia sedang duduk ngudud di warung kopi.
Ya, tanpa pernah Kang Uwais duga. Ustadz Sludrun adalah ”ustadz media sosial” yang begitu gencar menyuarakan gagasannya melalui genggaman-genggaman para millenial. Media-media seperti Instagram, Twitter serta Facebook menjadi sarana ia berbicara di depan umum. Ia pun sudah memiliki  beratus-ratus ribu followers, hampir satu juta malah. Apalagi ceramahnya di YouTube, sudah tak terkira begitu banyaknya. Entah sudah berapa ratus ribu subscribers yang Ustadz Sludrun miliki.
“Heran, ternyata ada tokoh masyarakat yang begitu canggih seperti itu ya,” gumam Kang Uwais. Kang Uwais lebih heran lagi pada dirinya sendiri. “Aih, kemana saja aku selama bertahun-tahun ini tak memiliki media sosial. Apakah selama ini aku hidup di dalam goa?.”
Maka Kang Uwais tenggelam dalam kebingungannya. Bahwa kehadirannya bisa begitu mudah dikalahkan oleh adanya ustadz yang ceramah dari jarak begitu jauhnya dari kampungnya itu. Parahnya lagi, para warga di kampungnya sama sekali tak mengenal secara mendalam profil yang dimiliki Ustadz Sludrun. Apalagi Riwayat Pendidikan Agamanya.
Setelah intelijen Kang Uwais yang bekerja secara masif dan terorganisir di kalangan ibu-ibu dan jamaah warung kopi berjalan dengan baik, baru lah ia sadar. Bahwa Ustadz Sludrun adalah alumni sebuah Sekolah Tinggi Jurusan Teknik Mesin, Ustadz Sludrun pun belum pernah meraskan bangku dampar pesantren. Kulit kaki Ustadz Sludrun ternyata masih begitu mulus dari bekas gudik—kenapa ibu-ibu rumpi bisa mengetahui kenyataan ini?—Yah, pada akhirnya, Ustadz Sludrun tetap memiliki keahlian dalam berpidato dan berorasi. Sebuah keahlian yang mungkin Kang Uwais kalah satu tingkat di bawahnya. Oh ya, satu lagi, kelebihan mengedit video YouTube dan memposting caption dan foto di Instagram. Yang ini, Kang Uwais sama sekali tak ahli. Kang Uwais meringis terenyuh.
Hanya satu-dua jenis keahlian yang membuat Kang Uwais bisa kalah pamor dari “Ustadz Millenial” yang bahkan hanya dikenal lewat media sosial, bukannya dikenal secara langsung. Namun sebenarnya ada begitu banyak keahlian Kang Uwais di bidang keilmuan agama yang lebih substansial untuk bisa disebut lebih berkompeten dari pada Ustadz Sludrun. Namun, apa boleh dikata. Fresh Graduate yang polos namun pandai itu pun hanya bisa termangu menatap kecanggihan zaman. Ah, mungkin lebih tepatnya, termangu menatap orang-orang biasa yang hanya lebih pandai mengolah kecanggihan zaman.  

   Kang Uwais pun mulai berfikir dan ketakutan, jangan-jangan ilmunya tak barokah dan manfaat. Karena manfaat ilmunya diambil dan diserobot oleh orang lain yang jauh lebih “canggih” darinya.
 WallahuA’lam bis Showwab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...