Ada tiga unsur utama yang mempengaruhi suksesnya sebuah pendidikan bagi seorang
individu. Sesuai namanya unsur pusat pendidikan ini terdiri dari tiga jenis,
yakni sekolah, masyarakat dan keluargasang anak sendiri.
Tri pusat pendidikan bisa dibilang merupakan manifestasi dari
sumber pendidikan di mana seorang individu memperoleh nilai-nilai pendidikan.
Unsur sekolah, biasanya identik dengan pendidikan formal yang
menyampaikan materi dan informasi yang amat sangat penting bagi kehidupan si
anak. Sedangkan lingkungan masyarakat sebagai basis pendidikan non-formal berperan
mengajarkan norma-norma, tatanan masyarakat dan skill berkehidupan yang
juga diperlukan di masa depan. Begitu pula dengan keluarga sebagai tonggak
pendidikan informal dan awal pendidikan bagi si anak itu dimulai, tentunya peran
keluarga amat sangat penting bagi si anak sebagai bensin dalam menjalani masa
depannya.
Selayaknya sebuah unsur, tri pusat pendidikan ‘harusnya’ berjalan
beriringan, berdampingan dan bersama-sama menuju tujuan yang sama. Sebuah unsur
haruslah saling berkesinambungan dan menyatu, tanpa ada yang merasa berbeda dan
terpisahkan. Bahkan harus dikatakan, tri pusat pendidikan harus saling
melengkapi dan mengisi satu sama lain. Peran masing-masing unsur mungkin
berbeda, namun arah tujuan tetap sama.
Jika satu saja dari ketiga unsur tersebut timpang, maka bisa
dipastikan bahwa perkembangan si anak tak akan maksimal. Itulah yang terjadi
sekarang. Dan ironinya, hal ini jarang dijamah oleh para pekerja intelektual.
Contoh ketimpangan itu sangat mudah kita temui. Bahkan mungkin saja
orang-orang disekitar kita—atau bahkan mungkin kita sendiri—yang mengalaminya.
Sebut saja bagaimana teman-teman kita—pasti ada—yang merasa susah
bersosialisasi, tertutup dan penyendiri. Belum lagi teman-teman kita yang
mungkin gampang tersinggung, pemarah dan memiliki ego yang begitu tinggi.
Atau bisa jadi malah teman-teman kita yang kelewat aktif dan ‘nakal’
serta suka mengganggu dan menjahili temannya. Pada dasarnya, justru merekalah
yang sebenarnya individu yang haus pengakuan dari orang lain. Sehingga mereka
selalu menunjukkan diri agar dilihat banyak orang—dibanding mereka yang
menunduk memeluk lutut dan merenungi nasib. Namun jauh di relung yang terdalam,
orang-orang seperti inilah yang paling merasakan sepi.
Intinya, banyak kasus anak yang masa kecilnya kurang mendapat
didikan yang baik oleh orang tua dan lingkungan dekatnya. Kasih sayang dan
pengakuan yang cenderung amat kurang itu pun berdampak pada sikap, watak,
karakter dan pembawaan anak di sekolah maupun masyarakat.
Sekedar penegasan, pribadi-pribadi seperti ini biasanya merupakan
produk dari pendidikan lingkungannya yang salah. Sehingga berdampak pada unsur
lingkungan yang lain. Pada kasus ini, unsur lingkungan keluarga dan masyarakat
sangat berperan dalam membentuk kepribadian dan pembawaan seorang individu.
Jika salah bidik, bisa saja jadi tak sejalan dengan tujuan lingkungan sekolah.
Masalahnya, kadang seringkali terjadi kasus di mana tri pusat
pendidikan tak lagi ‘sekedar’ timpang. Namun pada tataran selanjutnya, sudah
sampai pada tahap saling bertentangan dan berjalan saling berlawanan.
Tentu masih segar di ingatan kita begitu mudahnya gerombolan anak
kecil seusia SD berteriak “bunuh! bunuh!” sembari pawai obor di jalanan Kota
Jakarta. Tentu segelintir dari kita juga masih ingat ketika seorang anak kecil
beragama non-muslim—yang juga seusia SD—bertanya dengan polos kepada ibunya, “
Ma, Teman-teman bilang kalo mereka gak boleh temenan sama aku karena aku kafir
dan najis. Nanti mereka ketularan najis kayak aku. Sebenarnya, artinya kafir
itu apa ya? Artinya najis itu apa ya?”
Kita tentunya sepakat bahwa nilai-nilai yang tersirat di atas
bukanlah nilai yang sesuai dengan adab perikemanusiaan dan beragama yang benar.
Ketika anak kecil yang pada hakikatnya polos dan putih bersih bersikap intoleran
seperti itu, siapakah yang salah? Siapakah yang begitu ‘baik hatinya’
membenarkan—atau bahkan memberikan reward atas perilaku semacam itu?
Tri pusat pendidikan harus mampu memberikan solusi dari masalah
ini. Bagaimana ketiganya membentuk individu yang berguna tak hanya dengan
saling berjalan beriringan dan berkesinambungan namun juga harus saling mengisi
dan melengkapi. Terutama mengenai pentingnya “pendidikan karakter” seorang
individu, konsep al-Adabu fauqa al-Ilmi benar-benar harus disadari.
Jika hal ini tak disadari, lebih-lebih kasus seperti di atas tetap
dibiarkan, bukan tak mungkin jika nilai dan norma yang diajarkan di sekolah
atau instansi apapun—pesantren dan sebagainya—tak lagi berguna. Jika tak
dilengkapi dengan kerja sama dari sumber tri pusat pendidikan yang lain, tentunya
sikap beringas seperti itu akan tumbuh subur. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar
Posting Komentar