Langsung ke konten utama

SUDUT PANDANG YANG BENDERANG

Our Point of View


“Mengenal banyak sudut pandang membuat matamu terbuka lebar.” Sepertinya itu kalimat yang tepat namun singkat untuk menyatakan kekagumanku akan begitu banyaknya sosok hebat dalam satu waktu yang ku temui saat itu. Tidak hanya sehari saja, namun empat hari kami dipertemukan dalam suatu hotel untuk berkumpul dan berdiskusi membahas Pancasila dan keragaman di Indonesia.

Adalah Komunitas Bela Indonesia, sebuah komunitas yang bisa dibilang berusia muda ini membawa saya untuk pertama kalinya mengenal begitu kayanya perbedaan yang ada. Melalui tagline Indonesia Rumah Bersama, kami belajar banyak hal yang menjadi landasan kita untuk terus mengkampanyekan Pancasila dengan Bhinneka-nya. Hal-hal tersebut antara lain berupa argumentasi agama tentang perbedaan, kemampuan menulis, berdebat serta social media management.

Namun, bagi diri saya pribadi. Agaknya nilai dan kenangan berharga yang saya dapat jauh lebih besar dari semua itu.

Sebelum datang ke komunitas ini, bisa dibilang saya nol pengalaman mengenai keragaman di Indonesia. Saya yang sampai saat ini masih berstatus sebagai seorang santri semenjak kecil selalu dijejali dengan dogma yang sama. Lakum Diinukum wa Liya Diini.

Saya sendiri semenjak kecil juga tak memiliki teman yang berbeda agama dan keyakinan. Sebenarnya dulu waktu kecil pernah ada di kampung yang berbeda agama, namun anak kecil yang seperti itu sulit untuk mendapatkan tempat di hati teman-teman saat itu. Maka ia pun bisa dengan mudah dilupakan tanpa memberi kesan.

Jadi, mungkin akan sangat mudah ditebak. Akan seperti apakah kerangka berfikir saya mengenai Bhinneka dan keragaman yang ada di Indonesia.

Saat itu saya cenderung tak peduli dengan Pancasila. Bagi saya saat itu Pancasila hanyalah butir-butir teks yang harus dihafalkan di sekolah. Nilai-nilai yang tercermin dalam tiap sila Pancasila pun hanya untuk sekedar ditulis dalam lembar jawaban essai soal ujian.

Sebuah sikap yang bisa dibilang ceroboh—jika tak mau dibilang bodoh. Saya sadar, berawal dari kecenderungan sikap tak peduli dan merasa masa bodoh inilah, sikap benci dan menolak Pancasila ini lebih rawan terjadi. Ini juga yang mungkin banyak menerpa para pemuda dan pelajar di Indonesia saat ini.

Saya saat itu cenderung seperti ranting kecil yang mudah terombang-ambing angin di sekelilingnya. Apalagi jika angin yang menerpanya saat itu begitu kencang, gesekan yang saya rasakan juga begitu terasa. Ya, saya jujur saja soal ini. Saat itu saya begitu suka membanding-bandingkan agama saya dengan agama lain. Mulai dari membanding-bandingkan jumlah pemeluknya sampai soal pesepakbola dunia yang beragama islam dengan yang non-islam.

Bahkan mungkin sampai saat ini kebiasaan itu masih saja ada dalam diri saya. Walaupun memang tak sekuat dulu lagi. Perlahan perasaan itu memudar.

Perasaan seperti itu mungkin ada di setiap manusia. Bagi saya itu alamiah, namun jangan sampai menguasai segala sisi pribadi dan pikiran. Karena jika itu dibiarkan apalagi dikembangbiakkan, akan menjadi bibit yang sangat unggul bagi kemajuan radikalisme di Indonesia. Yang pada akhirnya, bibit unggul radikalisme itu akan terus berbuah menjadi bentuk tindakan terorisme.

Lalu bagaimana perasaan itu memudar?

Saya tak begitu memahami seperti apa prosesnya. Namun semua berawal ketika begitu banyak aksi kekerasan atas nama agama terjadi, ketika mayoritas merasa berkuasa atas minoritas dan kesenjangan akan kekeluargaan itu nyata terlihat, hati nurani saya terenyuh. Ia berkata, “Bukan seperti ini kan agama saya itu? Apakah agama saya mengajarkan yang seperti ini? Apakah dalil-dalil yang menyatakan agama lain sebagai musuh itu bisa diterapkan dalam konteks semacam ini?”.

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang meggerakkan saya untuk mencoba mendekati dan berdiskusi dengan teman-teman yang berbeda pandangan dengan saya. Salah satunya dengan mengikuti Komunitas Bela Indonesia ini.

Banyak hal yang saya pelajari di sini. Bahwa sudut pandang berpikir saya yang terlalu sempit dalam menyikapi banyak hal sangat diperbaiki di sini. Hal itu sangat jelas, karena latar belakang teman diskusi yang beragam. Mulai dari mahasiswa, dosen, penulis, aktivis, direktur, pegiat LSM, muballigh, ustadz bahkan pendeta pun berbaur dalam satu forum yang sama. Sehingga kekayaan akan aspirasi dan sudut pandang dari latar belakang tersebut banyak terlepas dan tertampung di sini.

Keragaman sudut pandang dan latar belakang tersebut tertampung dalam komunitas ini. Refleksi nyatanya, secara lebih luas tertampung dalam wadah besar nan megah bernama Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Dan kita harus menghargai itu, sebagaimana kita menghargai teman diskusi kita. Karena kita berangkat dari tempat yang sama, berproses di tempat yang sama dan bertujuan untuk maksud yang sama. Indonesia yang Jaya.

Inti dari yang saya pelajari adalah, ketika saya benar akan suatu hal, bukan berarti orang lain yang berbeda denga saya itu salah. Pancasila mengajarkan itu. Karena hanya dengan Pancasila kita bersama, bukannya dijadikan sama. Karena hanya dengan Pancasila kita beragam, bukannya dijadikan seragam. Karena dengan Pancasila kita bersatu, bukannya dijadikan satu. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

SUMBER YANG KERUH

Ada tiga unsur utama yang mempengaruhi suksesnya sebuah pendidikan bagi seorang individu. Sesuai namanya unsur pusat pendidikan ini terdiri dari tiga jenis, yakni sekolah, masyarakat dan keluargasang anak sendiri. Tri pusat pendidikan bisa dibilang merupakan manifestasi dari sumber pendidikan di mana seorang individu memperoleh nilai-nilai pendidikan.   Unsur sekolah, biasanya identik dengan pendidikan formal yang menyampaikan materi dan informasi yang amat sangat penting bagi kehidupan si anak. Sedangkan lingkungan masyarakat sebagai basis pendidikan non-formal berperan mengajarkan norma-norma, tatanan masyarakat dan skill berkehidupan yang juga diperlukan di masa depan. Begitu pula dengan keluarga sebagai tonggak pendidikan informal dan awal pendidikan bagi si anak itu dimulai, tentunya peran keluarga amat sangat penting bagi si anak sebagai bensin dalam menjalani masa depannya. Selayaknya sebuah unsur, tri pusat pendidikan ‘harusnya’ berjalan beriringan, ber...