![]() |
| Our Beloved Building |
Gedung asrama
kami memang tak begitu megah, namun di sana ada berbagai kisah indah. Terlukis
begitu saja. Tanpa terasa kami berproses, tumbuh besar dan menjalin asmara bersama
dalam naungan gedung asrama yang sama.
Dulu, tiap malam canda dan tawa kami tumpah ruah.
Cangkir-cangkir kopi malam berdentingan di antara kejauhan membentuk kepulan
melodi menggugah. Seruput demi seruput tak terasa semakin mengasah secercah
cerah. Percakapan-percakapan kami seringkali menggaungkan resah. Namun akan
selalu teringat, akan tiba masanya percakapan itu menjadi susah diterjemah. Membuncah
dalam desah. Karena keresahan itu ditanggung bersama tanpa banyak tingkah.
Aku rindu
saat-saat dulu ku merengek gundah, lalu ku temukan tempat bersandar lelah. Dan
jika ku katakan bahwa aku mengharapkannya juga saat ini, sungguh aku tak tahu lagi
harus mengutarakannya kepada siapa.
Kini aku
merasa seakan jarak sudah semakin mengaburkan realita dengan asa. Asa tersebut
semakin terkikis dengan bualan-bualan yang selalu sok menenangkan hati. Namun
faktanya, malah membuat hatiku panas.
Aku tak
peduli lagi jika pada suatu saat nanti ada yang mengatakan aku gila karena
cinta. Asa tersebut memang semakin membuatku hilang arah tak terkendali. Asmara
memang gila.
Jujur aku
tak bisa berkata-kata seperti apa lagi untuk mengutarakan rinduku ini. Dan
lagi, saat aku mengetik huruf per huruf dari tulisan ini aku tak lagi
memikirkan kaedah kepenulisan apa pun. Apalagi kaedah sastra. Aku hanya bisa
melamun sembari menatap kosong layar monitor laptopku. Sementara jari jemariku menari
bergerak sendiri.
Kenyataan
ini benar adanya karena sebenarnya aku sama sekali tak berniat menulisnya. Karena
pada dasarnya aku begitu benci mengakui adanya sisi cengeng ku di sini. Sisi
cengeng berupa ketakutan yang begitu besar akan sebuah kehilangan. Aku tak akan
pernah bisa siap jika sampai perpisahan terjadi begitu mudahnya merenggangkan
bangunan asrama yang telah kita bangun bersama. Lalu bangunan asrama itu roboh
menjadi reruntuhan sejarah kelam yang mungkin saja akan terlupa dan tenggelam. Ya,
kau tahu kan? Sebuah bangunan asrama sederhana tempat kita dulu membangun
asmara bersama.
Aku begitu sempit hati dan tak bisa menerima
kenyataan jika sampai ini benar-benar terjadi. Aku terlalu lemah menanggung
musibah besar tersebut. Aku selalu khawatir, asrama tersebut roboh meninggalkan
puing-puing derita. Bahwa kesengsaraan akan memenangkan gejolak dalam jiwa
rapuhku ini.
Jujur,
dengan sangat sejujur-jujurnya. Asmara dalam bangunan asrama tersebut adalah
anugerah Tuhan yang telah bemurah hati menitipkannya kepada kita. Lalu kenapa
kita bisa begitu mudahnya berharap mampu merobohkannya—menggantikannya--Mengharapkan
akan ada bangunan asrama yang lebih baik lagi ? Tidak akan. Tidak akan ada yang
bisa merobohkannya. Termasuk kamu. Bahkan termasuk aku sendiri.
Gedung
asrama kami memang tak begitu megah, namun aku akan selalu menjaganya. Dan aku
pun berharap kau pun begitu. Aku yakin kau pun menyadarinya, bukan begitu kan? Karena
aku yakin bagaimana pun juga, gedung ini terlalu tinggi dan mulia jika ada yang
ingin menghancurkan asmara dan harmoni bersama yang ada di dalamnya.
Cuma dengan
tekad yang kuat, kita bisa menjaganya bersama. Selalu menyayangi agar tak
saling terpecah-belah, hanyalah sebuah kata dan retorika bila tak ada realisasi
nyata. Aku selalu percaya gedung asrama kami baik-baik saja, meski pun santer
ku dengar gemuruh pekikan geram dan marah di dalamnya.
Aku selalu yakin ketika melihat asmara yang
begitu kuat dan hebat bersatu di dalamnya, maka suasana nyaman dan bahagia
setidaknya terjamin. Paling tidak selama diriku bernapas di dunia. Syukur jika
sampai dirasakan anak cucu kita.
Gedung
asrama kami memang masih terlalu naif jika dikatakan megah dan menjulang gagah.
Namun juga terlalu bodoh jika kau merasa hebat hingga melupakan jasa para
arsitek bangunan ini. Kau dengan egomu, mungkin tak akan pernah bisa
membayangkan perjuangan berdarah-darah di balik nyamannya tidurmu di sana.
Gedung
asrama kami memang dibangun tak semegah bangunan di sekeliling kami. Namun
harmoni dan kebahagiaan yang tercipta di dalamnya mampu membuat iri para
tetangga. Mereka ingin meniru apa yang kita lakukan! Sungguh apresiasi besar akan
kisah asmara kita tentunya. Lalu kenapa kau ingin merobohkannya ?
Gedung
asrama tempat kami menaruh asa memang tak begitu megah. Namun aku akan selalu
menjaganya. Karena kami lahir, tumbuh, besar, berproses dan akhirnya saling
menua pun akan selalu bersama di gedung asrama sederhana ini. Gedung asrama ini
pada akhirnya, ku beri nama Nusantara. Indonesia ku tercinta. Sebuah negeri yang bertanah gembur. Karena
asmara kami pun terpupuk subur di dalamnya.
Dan pada
akhirnya, aku selalu berharap gedung asrama ini akan semakin tinggi menjulang sembari
membawa asmara-asmara kami hingga menggapai awan asa, harapan bersama. Semoga
gedung asrama kami turut menjadi megah mengalahkan gedung pencakar langit
asrama-asrama negara lainnya. Sebuah hal yang saya yakin akan sama-sama didamba
oleh siapa pun juga.
Semoga kami
tenteram selalu di dalamnya. Semoga perpecahan-perpecahan yang ada tak begitu
berpengaruh terhadap kehebatannya. Aku rindu masa-masa saat kami yang saling
bersaudara, bercanda bersama di atas tanah suburnya. Aku rindu asrama lamaku—dan
sampai akhir hayatku—selamanya. Aku rindu Indonesiaku. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar
Posting Komentar