Langsung ke konten utama

Dunia Butuh Pesantren

Ilustrasi

Dimana-mana, dunia akademisi seakan lebih dipuja-puja, apalagi menjelang tahun ajaran baru ini. Bagaimana tidak, dari anak pejabat, anak konglomerat, sampai anak kuli berbondong-bondong mendaftar masuk kuliah. Banyak yang berbahagia setengah mati saat diterima di perguruan tinggi yang diinginkan. Jika gagal pun juga ada yang sampai benar-benar mati gara-gara bunuh diri. Saya Jadi menerka-nerka. Jangan-jangan para petinggi di Perguruan tinggi ternama tersebut main mata dengan Tuhan agar bersedia memastikan cerahnya masa depan mereka. Atau jangan-jangan mereka malah melangkahi kehendak-Nya, seakan-akan mereka mempunyai paket istimewa masa depan sesuai dengan  kemampuan finansial siswa masing-masing.

Ketika kita lulus SMA atau sederajatnya, saya yakin bahwa akan terbesit di benak kita walau sekecil apapun untuk melanjutkan kuliah. Wajar memang, karena kuliah saat ini telah bermetamorfosis menjadi sebuah tuntutan zaman. Banyak elemen masyarakat, apalagi perkotaan yang memandang derajat seseorang dari tingginya tingkat pendidikan seseorang, atau kita sebut saja dari seberapa banyaknya gelar yang berderet pada namanya. Tapi  banyak juga para sarjana muda yang masih bingung mondar-mandir cari kerja dimana-mana. Jadi sebenarnya semua hal tersebut nyatanya tidak memberi jaminan yang indah.

Padahal, tentunya gelar itu bukan yang utama. Itu hanyalah bonus dari perjuangan panjang menuntut ilmu. Istilahnya ijazah kuliah hanyalah bukti bahwa kita pernah menuntut ilmu di perguruan tinggi. Hal paling penting yang akan didapat dari proses bertahun-tahun tersebut adalah passion yang tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Kematangan sikap dalam menghadapi problematika hidup, serta kebijakan saat tertimpa berbagai masalah di kehidupan sehari-hari itulah yang sejatinya dibutuhkan seseorang manusia. Kita menyebutnya akhlak. Ilmu dan passion yang berkesinambungan itulah yang dibutuhkan untuk mensukseskan sebuah pekerjaan. Itu yang harusnya diutamakan.

Saya jadi teringat dengan dawuh kyai saya, K.H. Fahrur Rozi Bululawang. Beliau pernah mengatakan bahwa hal paling penting yang harus dimiliki seseorang dalam hidup adalah kejujuran, kemudian keberanian, barulah terakhir tingkat keilmuan. K.H. Hasyim Muzadi juga pernah menuturkan bahwa kepandaian dan intelektual seseorang bukan yang utama, karena masih bisa goncang dan runtuh oleh instabilitas rohaniah. Dari penuturan dua tokoh ini, semakin jelaslah maa qolah “Al-Adaabu Fauq Al-Ilmi”, bagaimana akhlaq seseorang lebih dipandang masyarakat daripada keilmuannya. Bagaimana instabilitas rohaniah—saya menyebutnya kekuatan iman—sangat memiliki andil dan mempengaruhi pemikiran manusia.

Masalahnya, saat ini sulit kita temui instansi pendidikan yang menyadari ini. Sekolah-sekolah modern terlalu berlomba-lomba mempercantik diri. Perguruan tinggi dimana-mana lebih mengekspose prestasi intelek daripada keagamaan mereka. Di sana, potensi Tarbiyah yang digunakan untuk melatih watak cenderung dipisahkan dari potensi Ta’lim yng melatih rasio dan ilmu seseorang. Miris jadinya saat menyadari bahwa akhlaq manusia sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh rasional. Logika mengalahkan nurani. Otak membunuh hati. Rasio manusia meningkat tanpa ditempa watak dan juga karakternya. Sehingga banyak pelanggaran seperti korupsi  ataupun budaya suap yang terjadi di mana-mana yang justru dilakukan oleh orang yang berpendidikan tinggi. Lalu, apa yang harus kita lakukan ?

Sebenarnya, sejak dahulu kita sudah mengenal sistem pendidikan yang tetap tak pernah berubah. Sistem pendidikan yang lebih menjunjung akhlaq mulia dengan dibarengi intelektual yang tak kalah mumpuni. Sistem pendidikan di Indonesia yang dalam sejarahnya, ternyata sistem ini lahir pertama kali, yang terus bertahan bahkan sampai saat ini masih memegang nilai-nilai prinsipya. Ya, Pesantren.

Di sini saya tidak akan membicarakan terlalu banyak soal pesantren, atau membahas pelajaran-pelajaran kitab salaf khas anak santri. Karena saya yakin hal-hal semacam itu sudah bukan rahasia lagi. Santri pun juga sudah tidak lagi tertutup dengan perkembangan dunia, melek teknologi. Saya hanya akan membahas sedikit saja (saya tidak yakin bisa menyelesaikan tulisan ini jika harus membahas seluruhnya) soal nilai-nilai di pesantren yang sebetulnya sangat dibutuhkan oleh zaman saat ini.

Tak disangkal lagi, adab dan etika seseorang memang lebih menentukan karir dan kesuksesan daripada estetika dhohiriyahnya. Orang lain kini tidak akan hanya memandang penampilan seseorang saja sebagai tolak ukur, tapi juga bagaimana orang tersebut dapat berinteraksi dan memperlakukan orang lain dengan baik dan dengan semestinya. Di Pesantren kita dibiasakan untuk hidup berdampingan dengan orang lain, saling membantu ketika ada teman yang kesusahan, loyalitas dan kesetiaan. Kekeluargaan begitu kental di pesantren, kebersamaan yang saling mengingatkan pada kebaikan bukannya malah menjerumuskan dalam keburukan.

Saat mematuhi peraturan-peraturan yang ada, mereka dibiasakan untuk berlaku jujur pada orang lain maupun diri sendiri. Ketika melanggar peraturan pun kita juga diharuskan berani jujur mengakui kesalahan. Hal ini penting karena kejujuran adalah poin penting seseorang bermasyarakat. Meskipun seseorang bersikap ramah dan baik jika ternyata ia tidak jujur maka siapa yang akan mempercayainya ?

Di pesantren kita juga diajari kesabaran dalam menghadapi dunia. Ketika kita harus antri dalam banyak hal setiap harinya seperti saat akan mandi, makan dan banyak hal lainnya. Di pesantren kita akan terbiasa dengan keadaan keras dan susahnya hidup. Sehingga saat menghadapi krisis saat dewasa nanti kita tidak akan kaget lagi.

Begitu juga kepada orang yang lebih tinggi derajatnya, lihat saja para santri. Mereka begitu ta’dhim dan patuh pada sang kiai, melaksanakan tugas dan perintah walau seringkali tidak sedikit yang dikorbankan. Karena yang mereka cari bukan materi, ataupun bayaran. Lebih dari itu, mereka begitu mengharapkan barakah Allah melalui pengabdian mereka itu. Niat mereka lurus mengharap ridha-Nya. Niat semacam ini yang harus ditanam sejak dini. Dalam bekerja, belajar, dan beraktifitas apapun harus selalu dilandasi niat beribadah.

Bukankah mereka yang atas dasar cinta dan ikhlas memperjuangkan agamanya, maka mereka akan ditanggung sepenuhnya oleh Allah. Term Kaifa Akhoful Faqra wa Ana Abdul Ghoniy ini jika dikaji ternyata bukan hanya ditujukan kepada para ulama’ pejuang bathiniyah diniyah ataupun para syuhada’ perang pejuang jismiyah diniyah islam. Tapi juga kepada siapapun tidak terkecuali mereka yang berjuang menghidupi keluarga—karena keluarga jugalah termasuk muslim—dengan niat ta’abbud dan taqarrub kepada Sang Khaliq.

Bukti dari sangat baiknya sistem pesantren saat ini pun mulai banyak bermunculan. Beberapa perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara mulai memperhatikan lulusan pesantren sebagai kriteria karyawan—mungkin untuk menekan angka korupsi. Bahkan kini ada wacana untuk menyamakan ijazah lulusan ulya di pesantren-pesantren salaf besar semisal Lirboyo, Ploso dan Sidogiri dengan jenjang S1. Sangat luar biasa menurut saya. Semoga suatu saat nanti hal ini akan benar-benar terealisasi. Sehingga kaum salaf dan santri bisa bersaing dengan kaum akademisi dan memberi andil yang lebih nyata untuk bangsa dan negara.

Mengapa hal ini dilakukan pemerintah dan perusahaan-perusahaan tersebut? Lagi-lagi akhlak. Karena ilmu dan skill kerja masih bisa diajarkan dan dipelajari, tapi akhlak dan perangai yang buruk akan sulit untuk ditanggulangi karena merupakan watak yang sudah melekat dan sulit untuk dilepaskan. Wallahu A’lam bis Showwaab.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...