Langsung ke konten utama

SENJA TERAKHIR RAMADHAN, INTROSPEKSI RUTINITAS DIRI SELAMA SATU BULAN




Gaung kebahagiaan dan kemeriahan takbir hari raya lamat-lamat terdengar di senja terakhir bulan Ramadhan ini, akhirnya lengkap sudah sebulan penuh ‘penderitaan’ kita menahan lapar dan dahaga. Selama satu bulan kita juga diharuskan mengekang hawa nafsu kita selama berpuasa. Produk hawa nafsu selain lapar dan dahaga—sebut saja amarah, emosi, dusta, serakah dan sebangsanya—pun juga menjadi ‘korban’ bulan Ramadhan ini. Sungguh bulan yang berat. Dan akhirnya kini semua telah berakhir. Ada yang bergembira menyongsong tibanya Hari Kemenangan ini. Setiap akhir Ramadhan pun selalu terasa euforia kebahagiaan di mana-mana. Ya, ia selalu merasa bahagia.
Ternyata ada pula yang bersedih atas kepergian bulan Ramadhan ini, tentunya momen Ramadhan ini selalu membekas. Banyak kenangan indahnya Ramadhan tentunya yang juga akan berlalu, seperti saat buka bersama siapapun yang spesial bagi kita, saat berburu takjil, saat sholat tarawih di surau-surau dan banyak lagi. Banyak pula kemurahan Tuhan dalam memuliakan Ramadhan yang akan habis masa berlakunya, bayangkan saja betapa ibadah di bulan Ramadhan dilipatgandakan sedemikian rupa di bulan ini. Agaknya kepergian Ramadhan di depan mata ini selalu membuatnya gundah gulana, akankah ia akan menemui Ramadhan kembali di kesempatan yang akan datang. Ya, ia selalu gundah gulana.
Sedari awal Ramadhan tiba sampai akan berakhir saat ini, tanpa kita sadari pola hidup kita telah otomatis menyesuaikan diri dengan ritme yang diciptakan bulan Ramadhan. Lihat saja pola konsumsi bahan kebutuhan—atau mungkin sekedar keinginan—lalu acara hiburan di televisi, bahkan hiasan dan aksesoris di setiap sudut kota dan pusat perbelanjaan selalu mengulang rutinitas tahunan ini.
Kahlil Gibran pernah berkata : “Cinta yang tak diperbarui setiap hari, ia akan menjelma menjadi perbudakan.” Artinya, spirit yang dilandasi cinta bisa saja hilang jika hanya disuguhi menu yang selalu sama, gerak langkah yang seragam dan aktivitas yang selalu begitu-begitu saja. Yang akhirnya menjadi rutinitas belaka tanpa ada ruang untuk memperbarui spirit cinta kita. Bukankah kita diharuskan untuk selalu tajdidun niyah (memperbarui niat) bukan hanya ketika menuntut ilmu namun juga di setiap aspek kehidupan kita.
Contoh nyata yang sudah umum terjadi setiap tahunnya, kita rasakan sendiri bagaimana hiruk pikuk Ramadhan begitu menggeliat di minggu pertama Ramadhan ketika semua masih semangat menyambut Ramadhan. Namun perlahan semangat itu meredup ketika perut kita telah terbiasa kembali menahan lapar dan dahaga di minggu berikutnya, kaki kita agaknya juga telah mulai merasa kelelahan untuk melangkah ke masjid untuk melaksanakan tarawih berjamaah. Pusat perbelanjaan, warung-warung kopi, atau restoran—berbuka kembali untuk kedua kalinya—pun menjadi pilihan untuk menghibur dahaga kita setelah seharian menahannya.
Bagi saya pribadi secara khusus, rutinitas ini juga tergambar dari begitu masifnya para ustadz—terutama di televisi—yang memberikan kultum seperti seolah memutar ulang pita kaset isi ceramah dari tahun-tahun sebelumnya. Sindrom dalil “Kutiba Alaikum Ash-Shiyamu...” mendengung di mana-mana memeluk para ustadz di bulan puasa. Ayat yang dibacakan selalu sama, hadits yang disampaikan pun juga begitu. Tentu kita sepakat tidak ada yang salah dengan semua itu. Tapi jika ma’na yang disampaikan selalu sama setiap Ramadhan, kita pun akhirnya sudah sama-sama tahu arah jalan ceritanya dan akhirnya pun bosan dan memilih meninggalkan majlis untuk kembali bergelut dengan pusat perbelanjaan dan warung kopi. Pada akhirnya, kita akan selalu terjebak pada rutinitas yang sama di bulan Ramadhan. Ya, kita selalu terjebak.
Sebenarnya banyak dari kita yang telah melakukan berbagai improvisasi dalam menjalankan dan memanfaatkan berkah Ramadhan. Ada yang menjawab dengan beri’tikaf dan mengurung berkhalwat selama Ramadhan, aktivitas dan kehidupan dunia seolah berhenti baginya. Ada pula yang membuat formula beribadah dengan mengkhatamkan Al-Qur’an, sholat malam dan berbagai amalan lainnya, namun banyak juga yang akhirnya berdampak pada berkurangnya produktivitas kerja dan konsentrasi belajar di kelas. Ada lagi yang menemukan spirit cinta Ilahi dengan berbagi kepada sesama di bulan Ramadhan, urusan apakah orang-orang di jalanan yang ia kasih berpuasa atau tidak bukanlah hal yang penting asalkan mereka ada makanan untuk berbuka puasa. Semuanya selalu baik jika dilandasi dengan niat yang baik.
Namun, ada pula yang mengisi Ramadhan dengan tetap bekerja sebagaimana biasanya. Rutinitas Ramadan bersatu padu dengan rutinitasnya setiap hari. Keduanya hadir dalam satu tarikan dan hembusan nafas yang sama. Ketika orang sibuk bertadarus, ia sibuk mempelajari ayat-ayat kauniyah-Nya dalam ruang laboratorium dan lembar  paper-nya. Sementara yang lain beri’tikaf, ia sibuk di jembatan antara hidup dan mati seseorang dalam mengoperasi pasiennya.
Bahkan ada pula yang tetap berpuasa sekuat mereka di tengah kerasnya hidup sembari mengais-ngais sampah, memetik gitar di jalanan, mengayuh becak, ataupun meniup peluit parkir seharian. Mereka agaknya telah lebih fasih dan faham dalam urusan ‘berpuasa’ daripada kita yang hanya berpuasa satu bulan saja. Ibnu Atho’illah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam pernah mengatakan : “ Boleh jadi, seseorang akan memperoleh pengalaman batin dalam penderitaan, hal yang tak bisa ia peroleh dalam puasa dan sholat.”
Bagi mereka, tak ada lagi jurang pemisah antara urusan dunia dan akhirat, seolah beribadah hanya melulu urusan akhirat dan bekerja hanya selalu berorientasi pada dunia. Bukankah definisi sejati dari dunia adalah sesuatu yang memalingkan kita dari Allah (meskipun sedang beribadah sekalipun jika didasari dengan riya’). Dan bukankah definisi akhirat adalah segala sesuatu yang membuat kita menuju Allah (meskipun dengan bekerja mencari nafkah).
Maka intinya, merajut kembali spirit cinta Ilahi di Bulan Ramadhan hendaknya selalu diawali dengan menata ulang cara pandang kita akan dunia dan akhirat. Jangan-jangan kita yang terjebak dalam rutinitas Ramadhan itu karena kita yang keliru memaknai mana yang duniawi dan mana yang ukhrawi. Jika tadarus, khataman Al-Qur’an, serta kultum pun justru tidak membuat kita lebih dekat kepada-Nya, maka kita masih berada di tingkatan “duniawi”. Dan sebaliknya, jika segala aktivitas kita di kantor, kampus, ataupun jalan raya membuat kita semakin merasakan kehadiran-nya, maka sprirt cinta Ilahi telah mebawa kita pada tingkatan “ukhrawi”.
Lantas, sungguh tinggilah mereka yang melakukan tugasnya dengan maksimal baik ketika berada di  masjid maupun kantor/kampus. Apapun aktivitasnya, baik itu dzikir maupun pikir jika itu menjadi perantara untuk menuju Allah di bulan Ramadhan ini, maka merekalah yang telah berhasil keluar dari jebakan rutinitas Ramadhan. Mereka itulah yang selalu memperbaiki spirit cinta Ilahi-nya setiap hari di Bulan Ramadhan. Dan mereka itulah yang telah memenuhi tujuan mereka berpuasa, yakni menjadi orang yang bertaqwa. Semoga selama sebulan lamanya kita berpuasa, kita ‘masih’ termasuk di dalam golongan tersebut. Amiin. Wallahu A’lam bis Showab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...