Langsung ke konten utama

KERETA TUA ITU BERNAMA BHINNEKA


Senja yang cerah, Mbah Uwais termangu menunggu sembari duduk di kursi panjang yang telah disediakan. Di genggaman rapuhnya, kusut tersemat kertas tiket perjalanan kereta tua yang telah lusuh. Sudah berjam-jam lamanya ia menunggu sendiri. Ia lupa sudah berapa lama.

 Terlalu aneh memang bagi seorang kakek renta untuk menunggu sendirian di sebuah stasiun yang ramai berlalu lalang orang-orang yang tak dikenalnya. “Orang-orang asing yang aneh,” begitu gumamnya. Namun ia sudah bertekad, kesempatan ini harus menjadi momen berharga yang tak boleh ada seorang pun dari anak maupun cucunya yang bisa mengganggunya. Ia sudah gerah diperlakukan seperti anak kecil. Hari itu, Mbah Uwais akan bertemu dengan teman masa mudanya.

Tanpa ia pernah duga, pundaknya ditepuk lemah oleh seseorang. Seorang yang lama dinanti-natinya. Mbah Uwais pun tersenyum menyapa. “Hei, Azhar! Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama.”

Entah sudah berapa puluh tahun mereka tak pernah bertemu, namun Mbah Uwais tak pernah lupa dengan guratan senyum itu. Sebuah garis wajah abadi yang tak seorang pun bisa menandinginya. Ia tentu masih ingat itu senyum itu. Sebuah senyum yang siap melawan takdir yang menghadang. Kini, Mbah Uwais mulai ragu apakah keyakinan itu masih ada dari sekedar guratan senyumnya.

Dahulu, mereka bertemu di saat Mbah Uwais tampak begitu culas dan putus asa dengan dunia mudanya. Mereka bertemu saat Mbah Uwais hampir tak peduli lagi dengan hidupnya. Jangan tanya bagaimana kepeduliannya dengan orang lain. Tentu lebih parah lagi. Setelah mereka bertemu, Mbah Uwais pun berubah.

 Setelah sekian lama, akhirnya Mbah Uwais mengerti arti dari sebuah persahabatan alami. Sebuah ikatan yang tak memandang adanya perbedaan suatu latar belakang, kekayaan, asal, agama, ras maupun hal sederhana berupa usia lawan bicaranya.

Jauh sebelum pertemuan itu, Mbah Uwais sama sekali tak jauh berbeda dengan anak-anak muda lainnya. Ia hanya seorang anak sekolahan yang memakai seragam sekolah—SD, SMP, SMP. Sebuah anak muda yang diseragamkan dalam suatu lambang penyetaraan derajat. Dalam seragam, tak ada lagi strata tingkat kekayaan, asal muasal maupun senioritas di lingkungannya. Dalam bingkai seragam, orang lain tak lagi memandang anak dari siapa dia. Namun umur memang tak bisa dibendung.

Mbah Uwais pada akhirnya bak seperti robot dengan mulut menganga yang dicekoki oleh hidangan makanan yang sama. Mbah Uwais dan teman-temannya tak dipedulikan lagi. Padahal mereka punya kemampuan yang berbeda antar satu dengan yang lainnya.

Lalu Mbah Uwais pun lulus dan mulai kuliah dengan seragam yang tak lagi ditentukan saat masuk kelas. Jurusan-jurusan ilmu yang dipelajari pun begitu banyaknya. Entah itu sesuai dengan kemampuannya atau ia salah jurusan siapa peduli. Pada akhirnya, perbedaan-perbedaan itu pun mulai tampak sedikit demi sedikit: kaya dan miskin,—baik ditandai dengan tingkatan biaya yang berbeda-beda ataupun beasiswa yang berseliweran—pintar dan bodoh ataupun aktif dan pasif. Perbedaan yang dulu tak ia lihat di masa seragam sekolah saat ini gamblang dipertontonkan dihadapannya.

Mbah Uwais mulai rasis, saling membedakan, dari hal yang sederhana: tanya umur, membandingkan jurusan dan jalan hidup orang lain. Hingga langsung saja secara terang-terangan: “Woy, Cina!, Woy, Papua!”

Seiring bertambahnya usia, teman-teman Mbah Uwais pun mulai menghilang dan memudar terseleksi oleh alam. Di masa-masa labil seperti itu, mereka hanya mau berteman dengan orang yang satu frekuensi dengannya. Entah itu sefrekuensi dalam hal asal muasal daerah, almamater alumni sebelumnya, kelompok hobi dan ketertarikan bahkan sampai ideologi pikiran yang beragam. Perbedaan-perbedaan itu semakin meluas. Lingkaran persahabatan Mbah Uwais pun justru semakin menyempit.

Parahnya, bermacam-macam kelompok yang muncul tersebut mulai saling membandingkan. Saling mencela. Saling merendahkan. Mereka yang memang benar-benar rendah, akan selalu merasa tinggi untuk menyembunyikan kerendahannya. Namun untungnya, akan selalu ada kelompok yang justru akan merasa rendah untuk menyembunyikan kehebetannya.

Kebebasan berekspresi yang tak lagi diseragamkan dalam sebuah seragam anak sekolahan itu semakin melunjak ketika Mbah Uwais kemudian dijejali kemudahan berekspresi. Mereka tak usah lagi bersusah payah dengan otot dan urat leher untuk menuntut hak mereka. Namun cukup dengan jari-jari jempolnya yang bebas menari-nari kesana kemari. Sementara akalnya diam terbelenggu kebebasannya.

Pada akhirnya, ia kembali lagi. Kembali lagi menjadi seperti robot yang diperalat demi urusan orang lain. Demi kepentingan kelompok tertentu. Mereka lupa jati dirinya bahwa mereka harusnya bersatu. Bersatu tanpa memperdulikan perbedaan yang ada.

Saat keadaan kacau itulah Mbah Uwais bertemu dengan Mbah Azhar. Mbah Azhar mengajarkan bahwa berani berbeda itu baik. Mengakuinya pun baik. Karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun jangan sampai perbedaan tersebut merusak hakikat dirinya hanya demi sebuah hakikat semu yang dikejar-kejar. 

Kereta yang Mbah Uwais dan Mbah Azhar tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Ia dengan teman lamanya tersebut telah bersiap diri menaiki gerbong yang tersedia. Ia sudah tak sabar lagi ingin mengarungi langkahnya dengan pasti. Usia yang renta tak lagi jadi masalah. Ia memperhatikan kakinya dengan seksama. Mulai masuk menuju kereta tua.

Sebuah kereta tua yang mantap menuju kegemilangan abadi. Sebuah kereta tua bernama Indonesia. Kereta yang menyatukan segela perbedaan dalam gerbong-gerbong menjadi satu kesatuan bernama Bhinneka Tunggal Ika. Mbah Uwais ingin keretanya seperti kereta-kereta mewah nan maju negara-negara yang lain. Kereta yang melaju cepat seperti kilat. Mbah Uwais tersenyum, ia sudah siap membunuh rindu yang tak terkira.

Wallahu A’alam bis Showwab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...