![]() |
| A Lonely Old Man |
Semilir melambai teduh ketika ia memejamkan mata dalam sepinya. Nuansa mesra seperti ini selalu berhasil membuatnya hanyut dalam gelombang tenang. Hatinya selalu
merasa tentram walaupun hanya berteman sunyi. Jauh dari hingar bingar gemuruh
dunia luar. Sukmanya menggelegar, sakit menyeluruh seluruh tubuh setiap
mengingat dunia yang selalu sulit ia jauhi. Dunia kejam yang terlanjur mencengkeram
seluruh sendi-sendinya. Kening keriput Mbah Uwais pun saling mengernyit menahan
rasa resah.
Dalam
perjalanan panjangnya ia banyak mendapatkan banyak hal tak terkira. Seperti ia
yang tiap saat menjumpai dengus panas gerutu manusia-manusia di sekitarnya.
Entah mereka kurang merasakan sentuhan syukur dalam kalbunya, sehingga ia
selalu mengeluh dalam tiap tingkat jalan hidupnya. Atau mungkin saja mereka
terlalu lama larut dalam angan-angan dan ambisi yang telah terlanjur dalam
menusuk ulu hatinya. Mbah Uwais masih saja bingung memikirkan hal itu.
Di setiap
fase hidupnya, sedari dulu Mbah Uwais hanya termangu melihat manusia saling
berlomba dalam gengsi. Bahkan ketika mereka sedang berjuang dalam
asa-nya,mereka selalu membandingk-bandingkan dengan pencapaian orang lain.
Perbandingan-perbandingan yang mereka karang sendiri ini sudah ahli mereka buat
semenjak balita. Agaknya, penjejalan hal-hal seperti ini telah ada dan menggerogoti secara turun temurun lamanya.
Konteks fastabiqul
khoirot sedari lama memang telah merambah ke banyak penjuru aspek
kehidupan. Kini, konsep itu berangsur-angsur berubah menjadi fastabiqul jaah
(berlomba-lomba dalam pangkat) ataupun fastabiqus syamam (berlomba-lomba
dalam kebanggaan). Kebaikan-kebaikan yang mereka buat pun pada akhirnya hanya
akan menimbulkan perbandingan-perbandingan yang lebih luas dan besar lagi. Atau
mungkin saja kata-kata fastabiq atau sebuah perlombaan memang selalu
sejalan dengan perbandingan dan berujung
pada sebuah kebanggaan.
Kalau memang begini, Mbah Uwais sudah lagi tak
memiliki apa pun yang bisa dibanggakan. Ia berjalan telanjang dan tak kuasa
membusungkan dadanya mengitari bumi yang ia pijak. Ia berjalan dan tertunduk
lesu dalam perenungan indah nan mewah masa lalunya yang sungguh berbeda dari
dirinya kini.
Masa muda
manusia yang sudah dijejali dengan pergeseran banyak sekali makna semakin diperparah
oleh kemudahan yang menjerumuskan. Ya, kemudahan-kemudahan dalam sarana
membanding-bandingkan dan kebanggan yang dipoles sedemikian rupa. Menunjukkan
kepada orang lain betapa indah dan penuh hasratnya kehidupan yang mereka
jalani. Mereka kini tak lagi harus bersusah payah memonyong-monyongkan mulut mengumbarnya kepada para tetangga. Cukup dengan kreasi sedemikian rupa dari
jari lentiknya tersebut, ia sudah mampu mengumumkan pada dunia betapa
bahagianya ia hidup. Mbah Uwais mengingat jauh kembali masa mudanya.
Yang lebih anehnya lagi, kebanyakan yang
mereka bagikan tersebut ternyata adalah hal yang bertolak belakang dengan
kenyataan yang terjadi di dunia aslinya. Kungkungan kebanggaan dan suka
membanding-bandingkan tersebut pada tahap selanjutnya pun berubah menjadi
sebuah kebohongan. Mereka tak malu lagi mengumumkan kebahagiaan palsu yang
masih sulit tuk mereka gapai. Bahkan ketika mereka hanya berbaring
bermalas-malasan di kasur yang nyaman pun mereka mampu membagikan hal-hal tak
berguna semacam itu. Mbah Uwais meringis.
Gigi-gigi
Mbah Uwais yang semakin ompong mulai menggeremetak kedinginan. Ia ngilu menahan
malam panjang yang tak kunjung usai. Malam panjang nan dingin tetap setia
menemani di saat ia lemah tak berdaya seperti ini.
Kemudahan-kemudahan
yang terjadi semakin disalah gunakan tak lagi dalam aspek kebahagiaan dan
kebanggaan. Pada tingkat yang lebih tinggi dan profesional—namun lebih rendah
derajatnya (baca: kurang ajar) di mata Mbah Uwais—para manusia mulai memutar
arah menyebarkan kebencian-kebencian dan keresahan yang menggemaskan.
Mereka mulai
menyebarkan keadaan yang semakin berbahaya nan genting yang tengah mereka
alami, sedangkan mereka tengah duduk manis dalam sebuah kafe mewah sambil
menyeruput secangkir kopi luwak murni. Entah apa tujuannya. Sementara para
penikmat kopi hitam bubuk di warung-warung kaki lima pun mulai mendengus-dengus
menahan marah di dadanya.
Mbah Uwais
pun begitu, ia dulu sering terprovokasi dengan mudahnya. Seringkali ia
terpantik emosinya di kala orang lain memancing-macingnya. Kata-kata makian pun
dulu sering ia lontarkan. Namun beruntung, ia belum sempat terlalu sering untuk
sampai pada tahap terbiasa dalam memaki-maki orang lain melalui sebuah teks
yang ditulis secara online. Ia terlanjur tua untuk melalui masa-masa itu.
Tanpa
disadari Mbah Uwais, masa lalu yang ia hasilkan ternyata telah berevolusi
menjadi masa yang kini siap menuju kegaduhan bila tidak segera ada sang
penenang yang memadai—masalahnya mereka yang seharusnya mendapat bagian menenangkan
malah ikut-ikut memanaskan. Entah. Mbah Uwais kini sadar, ia merindukan sosok
yang benar-benar menenangkan sekaligus meneduhkan. Namun kini telat baginya.
Kehidupan pilu penuh deru Mbah Uwais hanya
berlangsung singkat. Kini ia hanya mampu menatap kosong dalam diam yang
menyembunyikan banyak arti. Hanya rasa sesal yang terpatri dalam sukmanya.
Sebuah sesal yang samar.
Tak satu pun
yang memahami. Tak ada satu pun yang peduli. Ia sendiri dalam sepi. Siap
menunggu masanya yang perlahan-lahan keluar melalui tenggorokannya yang
tercekat......
Wallahu A’lam bis Showwaab.
Wallahu A’lam bis Showwaab.

Komentar
Posting Komentar