“Tersenyumlah dengan penuh syukur atas segala ni’mat yang didapat.
Percaya dan yakinlah semua ni’mat yang didapat adalah sebaik-baiknya jalan
hidup.”
Di
pagi buta, dengan kaos tipisnya ada seseorang yang tersenyum lebar penuh ikhlas
sembari mengayuh sepeda ontelnya pergi bekerja. Dinginnya udara seakan hilang
seketika tergerus senyumnya, padahal belum tentu ia telah tuntas sarapan pagi.
Hanya sebatang rokok dan segelas kopi yang selalu wajib baginya, sarapan
hanyalah hal istimewa yang jarang dinikmati. Namun dengan segala kondisi
tersebut ia masih dapat tersenyum lebar dengan tubuh rentanya. Ada juga
seseorang dengan harta melimpah, tahta mulia, bahkan istri yang cantik jelita
bak puteri Cinderella. Namun hidupnya bisa dikatakan jauh dari kata bahagia. Bahkan
untuk sekedar tersenyum saja begitu susah. Sungguh luar biasa pengayuh ontel
tersebut, walaupun belum sarapan, hidup pas-pas an, dan seringkali diremehkan.
Namun masih dapat tersenyum lebar. Itu merupakan rasa syukur yang luar biasa,
dengan secuil nikmat sudah dapat tersenyum. Lalu bagaimana dengan (maaf)
pemimpin korup kita? Harta melimpah, tahta “mulia”, bahkan wanita juga lengkap
tersedia. Namun mengapa masih korupsi? Apa nikmat tersebut belum cukup? Ada banyak artis terkenal korea yang mengakhiri
hidupnya dengan bunuh diri pada saat puncak karirnya, ini membuktikan jikalau
ketenaran bukanlah penyebab kebahagiaan. Banyak pula konglomerat dunia yang
memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena tertekan dengan semua
pekerjaannya. Bahkan tidak sedikit ilmuwan-ilmuwan dunia yang meregang nyawa
dengan bunuh diri karena merasa tidak bahagia. Lantas, apa itu kebahagiaan?
Kebahagiaan tidak diukur dengan acuan harta yang melimpah ruah, bukan pada
tahta yang tinggi nan “mulia”, bahkan bukan pula pada wanita yang cantik
jelita. Namun, kebahagiaan itu terletak pada hati kecil kita. Jika hati kita
mampu mensyukuri segala bentuk nikmat yang ada, maka akan sangat mudah bagi
kita untuk tersenyum bahagia penuh syukur.
Pernah
beberapa kali terlihat, sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan
seorang anak kecil tengah tinggal bersama beralaskan plastic tepat di pinggir
jalan raya dekat lampu merah. Sangat menyentuh hati ketika memandang keluarga
tersebut, dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan, mereka masih mampu
melontarkan senyum lebar setiap saat. Bahkan walaupun tempat tinggalnya persis
di pinggiran jalan raya, mereka tetap menjaga kebersihan pakaian dan tubuhnya
lengkap dengan jilbab bagi sang ibu. Masih sulit untuk menerkanya, bagaimana
mungkin dengan kondisi sangat terbatas dan membawa anak sekecil itu masih bisa
tersenyum penuh kebahagiaan. Barangkali kebahagiaan merupakan hal mewah bagi
sebagian orang, namun keluarga tersebut mampu membuktikan bahwa dengan segala
kekurangannya ia masih mampu tersenyum mensyukuri jalan hidupnya. Sungguh malu
kepada diri sendiri, dikala orang lain dengan segala keterbatasannya mampu
bersyukur penuh, sedangkan diri ini masih serakah dan kufur akan ni’mat yang
ada.
Komentar
Posting Komentar