Langsung ke konten utama

Posisi dan Waktu setiap insan



“Kalian harus tau posisi dan waktu kalian berada”

                Sekilas memang sangat sederhana kalimat tersebut, namun jika direnungkan lebih mendalam, kalimat tersebut dapat ditafsirkan hingga sangat dalam. Saya mendapat dawuh(nasihat) tersebut ketika kelas 2 di MA Almaarif singosari, ketika beliau (Almarhum K. H. Abu sairi) sedang mengajar fiqih di kelas. Beliau merupakan sosok yang unik. Banyak makna dan tauladan yang tersirat dalam keseharian beliau. Bagi saya beliau merupakan guru hidup yang akan selalu membekas di hati, dawuhnya juga selalu sarat makna bertasawuf dalam kehidupan. Ada cerita menarik mengenai sosok beliau, Kyai Abu merupakan guru senior di kalangan pengajar Yayasan Pendidikan Almaarif Singoasari. Selayaknya guru senior yang sudah sepuh (berumur), beliau ketika menyampaikan materi di kelas hampir tidak pernah menulis di papan tulis. Mungkin karena factor kesehatan dan usia juga, beliau sedikit kesulitan untuk menuliskan materi di papan tulis. Jadi kyai abu menyampaikan materi pelajaran melalui lisan saja, dengan menjelaskan kepada murid-murid lainnya. Pertama, sebagai anak yang idealis dan tidak mudah menerima hal baru mentah-mentah, terbesit di pikiran saya kalau metode ini tidak efektif. Karena saya dan teman-teman lainnya hanya mendengarkan dan mencatatnya saja setiap pertemuan. Namun, sebagai bentuk ta’dzim kepada beliau, saya memutuskan dengan bulat untuk jalani saja, entah bagaiman hasilnya yang penting ikuti saja beliau. Setelah beberapa pertemuan berlalu, kyai abu mengadakan ujian. saya bingung waktu itu, karena saya sangat yakin tidak akan bisa mengerjakan setiap soal, karena setiap pertemuan hanya mencatat dari penjelasan beliau. Tanpa ada penjelasan rinci sebagaimana metode pengajaran guru-guru muda lainnya. Setelah soal dibagikan, saya kerjakan perlahan dengan bismillah. Anehnya, saya yakin bahwa soal yang saya dapatkan itu adalah soal-soal dengan kategori sulit. Pertanyaannya cukup detail dan mendalam, namun entah kenapa, saya bisa mengerjakannya. Seolah-olah muncul begitu saja di pikiran saya. Saya yang masih terheran-heran dengan senyum menyelesaikan ujian tersebut. Kemudian saya merenungkan banyak hal dari sikap kayi abu tersebut, “astgahfirullah”, saya baru sadar kembali bahwa ilmu ada tingkat kebermanfaatan dan keberkahan sendiri. Saya teringat dawuh kyai Maimoen Zubair :

“jadi guru itu tidak usah punya niat membuat pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu nanti jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah SWT. Didoakan saja agar mendapat hidayah”

Saya renungkan dalam-dalam dan mulai paham sedikit demi sedikit. Mungkin inilah sebabnya ilmu dari kyai Abu bisa meresap ke dalam jiwa muridnya, beliau dengan segala keterbatasannya selalu semangat untuk mengajar. Sangat Nampak keikhlasan beliau salam mengajar, bahkan murid yang tidak bisa pun bukan menjadi masalah untuk beliau. Beliau tetap mengajarinya dengan telaten dan penuh semangat. Beliau juga tidak pernah telat dating ke sekolah, sungguh luar biasa. Beliau juga pernah menayatakan tidak akan berhenti mengajar sampe akhir hayatnya. Sungguh sangat luar biasa sosok beliau. Tidak hanya menyampaikan ilmu, tapi teladannya jauh lebih banyak makna. Semangatnya jauh melebihi kaum muda. Hingga akhirnya, pada pagi hari beliau control kesehatan seperti biasa. Namun tanpa diduga, saat itu juga Allah SWT mengangkat ruh beliau menuju surgaNya kelak. Saat itu juga beliau didampingi Prof. K. H. Tholhah Hasan (Menteri Agama Periode Gus Dur/Pembina Yayasan Pendidikan Almaarif). Masih terasa saat itu, suasana di Aliyah bahkan seluruh Yayasan (TK-SDI-MI-MTs-SMPI-MA-SMAI-SMK Almaarif) berduka. Tetesan air mata juga tidak bisa dibendung, baru saja kami kehilangan sosok luar biasa. Sosok yang akan selalu melekat di hati kami semua. Kami sangat merindukan sosok beliau, mungkin hanya do’a yang bisa menjadi obat untuk rindu kami saat ini.

2-3 tahun setelahnya, banyak dawuh kyai abu sairi yang sangat relevan dan bermanfaat. Salah satunya adalah “Kalian harus tau posisi dan waktu”. Dulu kami hanya mengangguk saja ketika di dalam kelas, namun sekarang mulai terasa dawuhnya. Menjadi makhluk social memang harus tahu posisi dan waktu. Jika tidak, bisa saja kita berbuat dzolim terhadap orang lain maupun diri kita sendiri. Implementasinya, kita harus sadar posisi kita dimana. Sebagai anak, kita wajib berbakti dan mentaati nasehat orang tua. Sebagai mahasiswa, kita wajib belajar dan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Sebagai apapun itu, kita harus sadar akan tanggung jawab yang diemban. Sehingga dengan “tahu posisi”, kita akan terjauh dari sifat dzolim kepada siapapun itu. Kemudian “tahu waktu”, implementasinya merupakan manajemen waktu. Dalam hidup, tidak bisa serius terus-terusan. Ada kalanya harus diselingi guyonan untuk memperkuat pertemanan, maupun mencairkan suasana. Namun juga ada batasnya, sehingga dengan “tahu waktu”, kita bisa membagi waktu dengan adil. Adakalanya bergurau, adakalanya serius. Keduanya saling dibutuhkan. Terlepas dari semua itu, kita harus sadar dengan penuh posisi kita sekarang sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, waktu kita di dunia pun hanya sementara (layaknya Laron).

Oleh : Muhammad Azhar M.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...