“Kalian harus tau posisi dan waktu kalian berada”
“jadi guru itu
tidak usah punya niat membuat pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika
melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat
menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu nanti jadi pintar
atau tidak, serahkan pada Allah SWT. Didoakan saja agar mendapat hidayah”
Saya renungkan
dalam-dalam dan mulai paham sedikit demi sedikit. Mungkin inilah sebabnya ilmu
dari kyai Abu bisa meresap ke dalam jiwa muridnya, beliau dengan segala
keterbatasannya selalu semangat untuk mengajar. Sangat Nampak keikhlasan beliau
salam mengajar, bahkan murid yang tidak bisa pun bukan menjadi masalah untuk
beliau. Beliau tetap mengajarinya dengan telaten dan penuh semangat. Beliau
juga tidak pernah telat dating ke sekolah, sungguh luar biasa. Beliau juga
pernah menayatakan tidak akan berhenti mengajar sampe akhir hayatnya. Sungguh
sangat luar biasa sosok beliau. Tidak hanya menyampaikan ilmu, tapi teladannya
jauh lebih banyak makna. Semangatnya jauh melebihi kaum muda. Hingga akhirnya,
pada pagi hari beliau control kesehatan seperti biasa. Namun tanpa diduga, saat
itu juga Allah SWT mengangkat ruh beliau menuju surgaNya kelak. Saat itu juga
beliau didampingi Prof. K. H. Tholhah Hasan (Menteri Agama Periode Gus
Dur/Pembina Yayasan Pendidikan Almaarif). Masih terasa saat itu, suasana di
Aliyah bahkan seluruh Yayasan (TK-SDI-MI-MTs-SMPI-MA-SMAI-SMK Almaarif)
berduka. Tetesan air mata juga tidak bisa dibendung, baru saja kami kehilangan
sosok luar biasa. Sosok yang akan selalu melekat di hati kami semua. Kami
sangat merindukan sosok beliau, mungkin hanya do’a yang bisa menjadi obat untuk
rindu kami saat ini.
2-3 tahun
setelahnya, banyak dawuh kyai abu sairi yang sangat relevan dan bermanfaat.
Salah satunya adalah “Kalian harus tau posisi dan waktu”. Dulu kami hanya
mengangguk saja ketika di dalam kelas, namun sekarang mulai terasa dawuhnya.
Menjadi makhluk social memang harus tahu posisi dan waktu. Jika tidak, bisa
saja kita berbuat dzolim terhadap orang lain maupun diri kita sendiri.
Implementasinya, kita harus sadar posisi kita dimana. Sebagai anak, kita wajib
berbakti dan mentaati nasehat orang tua. Sebagai mahasiswa, kita wajib belajar
dan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Sebagai apapun itu, kita harus sadar
akan tanggung jawab yang diemban. Sehingga dengan “tahu posisi”, kita akan
terjauh dari sifat dzolim kepada siapapun itu. Kemudian “tahu waktu”,
implementasinya merupakan manajemen waktu. Dalam hidup, tidak bisa serius
terus-terusan. Ada kalanya harus diselingi guyonan untuk memperkuat pertemanan,
maupun mencairkan suasana. Namun juga ada batasnya, sehingga dengan “tahu
waktu”, kita bisa membagi waktu dengan adil. Adakalanya bergurau, adakalanya
serius. Keduanya saling dibutuhkan. Terlepas dari semua itu, kita harus sadar
dengan penuh posisi kita sekarang sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, waktu kita
di dunia pun hanya sementara (layaknya Laron).
Oleh : Muhammad Azhar M.

Komentar
Posting Komentar