Langsung ke konten utama

Bunga yang merekah




“Masa depan adalah hal yang tidak pasti, selalu penuh dengan ilusi. Karena dunia hanyalah permainan dan kita tidak berhak memastikan. Maka tidak perlu takut dan bersedih, cukup berusaha dengan niat sepenuh hati”

                Aku adalah Azhar, bocah kecil penakut dan pemalu dengan mimpi sebesar semesta, bahkan mimpiku bisa melebihi apa yang diimpikan tokoh besar negeri ini! Tapi masalahnya, apakah aku bisa mengejarnya? Ada seorang tokoh besar yang mengatakan padaku “bermimpilah setinggi langit! Jika jatuh, kau akan terjatuh diantara bintang-bintang”. Aku setuju dengan kalimatnya yang mampu membakar semangat pendengarnya, tapi apa aku mampu menjadikannya nyata? Sedangkan aku hanyalah bocah kecil dengan pola pikir aneh yang sering bertolak belakang dengan logika orang pada umumnya. Untuk mengurus diri sendiri saja masih tidak mampu, bagaimana aku akan menjadi orang besar nantinya?? Tenang saja, aku adalah hamba dari Pemilik Semesta Alam. Tugasku hanya berusaha dan berserah padaNya, kurasa tidak perlu memikirkan hasilnya, bukan urusanku juga. Biarlah Tuhan yang mengaturnya.
                Banyak orang bilang aku aneh, cupu, ndeso, egois, kaku, dan lainnya. Bahkan aku sendiri sering berfikir aku bukan orang normal, hahaha. Itulah aku, Azhar, bocah penakut yang memberanikan diri bermimpi setinggi-tingginya melebihi langit. Seringkali aku terjebak dalam pemikiran “tidak jelas”, aku menyebutnya seperti itu karena memang tidak jelas asal usulnya, selalu terlintas karena hal yang remeh. Tapi hal itulah yang banyak mempengaruhi hidupku.
                Berbeda tidak selalu salah, dunia akan lebih indah dengan beragam perbedaan didalamnya. Bagaikan bintang di angkasa, tidak akan pernah terhitung jumlahnya. Itulah manusia, selalu berbeda disetiap sisinya. Justru dengan berbeda, akan memperindah suasana. Ini adalah awal mula, hingga waktunya pergi menghampiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...