Langsung ke konten utama

ANTARA TAKUT, HARAPAN DAN CINTA





Dalam hidup, suatu yang wajar jika banyak hal yang terlewatkan, wajar saja mengingat hal itu bukan berarti meninggalkan dan melalaikannya. Hanya sekedar terlewatkan. Namun bagaimana jika hal tersebut justru sangat berpengaruh bagi keseluruhan hidup kita. Tengok saja peternak ayam potong, intensitas pakan dan vitamin dalam minuman si ayam tentunya juga berpengaruh besar di hari panen. Detail-detail kecil bisa jadi begitu berpengaruh untuk kita cermati. Banyak hal semacam ini terjadi, tidak hanya teruntuk para peternak.

 Misalnya saja, dalam urusan melaksanakan ibadah dalam keseharian, baik itu mahdhah—ibadah paten yang tidak memungkinkan adanya inovasi—ataupun ibadah yang bukan mahdhah seperti sedekah dan sebagainya. Ini bukan masalah syari’at dan tata cara kita menjalankannya. Karena dua hal ini sudah terlalu umum untuk dibicarakan. Ini hanya masalah niat. Terlalu sederhana mungkin jika dilihat dari kulitnya, tapi sebenarnya ada hal kecil namun berpengaruh yang mungkin telah terlewatkan dan harus kita telaah kembali.

Sebagai hamba, ketika beribadah ada beberapa tingkatan yang menyertainya, ada yang cenderung melakukannya atas dasar ketaatan yang penuh rasa “takut kepada atasan” yang disematkan kepada Tuhan. Semua kemudian berputar pada rasa ngeri akan neraka, menghindari adzab, mencegah diri dari yang haram. Berusaha menghindari sejauh-jauhnya yang namanya dosa. Di sini, seakan-akan Tuhan adalah Maha Pengancam yang sadis. Sehingga kita takut dan mengerjakan apapun yang di perintahkan. Hal ini sebenarnya sah saja, bahkan sangat dibutuhkan ketika kita begitu merasa hina dan dosa terlalu berat menumpuk di atas pundak kita. Tingkatan ini sangat dibutuhkan dalam kadar tempatnya.

Namun akan sangat riskan jika kita terus menerus stagnan di tempat. Sebut saja kita memiliki guru yang sangat pemarah dan ahli memberikan hukuman, sehingga tak satupun murid yang berani padanya. Jika murid-muridnya begitu rajin masuk pelajaran dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan Sang Guru, seberapa besar kita yakin bahwa motivasi si murid benar-benar karena menuntut ilmu? Atau mungkin karena takut akan hukuman yang telah menanti?

Lalu ada lagi yang yang beribadah karena rasa ngarep akan karunia-Nya. Mereka tenggelam dalam lautan angan akan “bonus dari atasan” yang disematkan pada Tuhan. Semua lalu berputar kembali pada rasa harap yang tinggi terhadap syurga, mengejar-ngejar pahala, serta mencari-cari apapun yang halal. Berusaha mengais-ngais pahala di segala lini hidup. Tingkatan ini tentunya amat bagus karena mencerminkan fastabiqul khoirot. Hal ini tentunya hanya terjadi ketika seorang hamba sudah amat begitu percaya akan dirinya sendiri. Begitu pula ia telah berbaik sangka selalu terhadap Tuhan Penciptanya. Sehingga motivasi beribadahnya juga lebih baik dari yang sebelumnya.

Lalu ada lagi yang beribadah karena rasa ”cinta akan kekasih” yang begitu menggebu akan Tuhannya. Layaknya sang pencinta, ia tak akan segan-segan memberikan apapun yang dimiliknya hanya demi Sang Kekasih. Kita Yang dicintainya memanggil, ia tak akan berfikir panjang untuk memenuhinya. Tentu saja ia bahagia. Ia tak pernah merasa tertekan atas tuntutan ibadah yang terus-menerus dilakukannya. Tentu saja ia ikhlas. Tak pernah terbesit sedikit pun di benaknya akan imbalan yang harus ia dapatkan karena abdi-nya pada yang dipuja-puja. Sujud dan tunduk mereka kepada Tuhan atas dasar cinta dan pengabdian yang tinggi

Dari tiga pendekatan tadi, yaitu konteks “takut”, “ngarep” dan konteks “cinta”, saya yang masih termasuk dari orang biasa yang awam tentunya lebih condong kepada konteks “takut”, dan terkadang juga “ngarep”. Karena sejujurnya tingkatan “cinta” itu hanyalah milik Sang Pencinta sejati. Ya, kaum Sufi. Bahkan ada yang sampai tidak menikah dan berusaha mengunci nafsunya seperti Rabi’ah Al-Adawiyah karena saking ikhlas dan cintanya dalam menghamba. Tentunya saya rasa hal tersebut terlalu muluk, karena pribadi saya hanya manusia biasa yang masih merasa membutuhkan interaksi dan tentunya timbal balik dari setiap perbuatan. Jangankan yang aneh-aneh, chatt WhatsApp tidak dibalas saja menggerutu apalagi dalam urusan ibadah kepada Tuhan.

Ironisnya, selalu saja ada yang berlebih-lebihan dengan konteks pendekatan kubu masing-masing. Ada yang berlebihan takut dengan ancaman-Nya sehingga melupakan kemurahan-Nya. Lupa bahwa Allah itu Ghofurur Rahim. Yang Maha Mengampuni Lagi Maha Penyayang. Bahkan sampai menakut-nakuti kepada sesama hamba.  Beribadahtak hanya menjadi ajang kita menjalankan kewajiban saja, ia bahkan bisa saja menjadi rasa tertekan dan takut akan adzab-Nya.

Begitu pula sebaliknya dengan konteks “ ngarep” dan “cinta” pun juga banyak yang mengakibatkan seseorang terlalu berlebihan memandang keagungan rahmat dan pengampunan-Nya. Sehingga dalam dalam beribadah cenderung sembrono dan semaunya sendiri. Lupa bahwa Allah itu Syadiidul ‘Iqab, Maha dahsyat hukuman-Nya. Sebagaimana cinta, tentu akan ada proses dan lika-likunya. Kadang kita sangat ta’at dan tergila-gila karena cinta tersebut. Tapi kadang cinta tersebut juga melemah sehingga kita cenderung bosan dan mencari pelampiasan dengan dosa dan maksiat kepada-Nya.

Terlepas dari adanya beberapa konteks pendekatan ibadah ini, kenyataan bahwa Allah itu Ghofurur Rahim dan sekaligus Syadiidul ‘Iqab telah melahirkan konsep sikap khauf (cemas), rajaa (harap) serta mahabbah (cinta) kepada Sang Maha Segalanya. Orang beriman akan selalu berada diantara kecemasan dan harapan. Itu pasti. Karena iman juga selalu berubah-ubah kedudukannya. Mereka memiliki rasa khauf dan rajaa yang seimbang. Cemas tidak mendapat rahmat dan ampunan, dan berharap mendapat rahmat dan ampunan-Nya. Sehingga sebagai orang yang beriman kita dituntut untuk tidak boleh putus harapan, tapi juga tidak boleh hanya mengandalkan harapan.

Intinya, sebagaimana ajaran dasar dan umumnya kita sebagai umat Islam. Hendaknyalah kita berlaku tawassuth dan adil dengan mengambil jalan tengah antara “takut”, “ngarep” dan “cinta” tersebut, dengan mengambil pokok-pokok dari ketiganya yang paling penting dan pas serta dekat bagi keadaan diri kita masing-masing. Sehingga tentunya menurut kita lebih diperlukan dalam pengaplikasiaannya. Serta tidak berlebih-lebihan dalam sikap dan setiap permasalahan yang kita hadapi. Bukankah berlebih-lebihan dalam mencintai itu juga tidak baik—bisa-bisa kita tidak enak makan dan tidur. Bukankah berlebih-lebihan dalam berharap juga tidak baik, bisa-bisa kita akun jatuh dalam jurang kekecewaan. Apalagi berlebih-lebihan dalam hal takut akan suatu hal. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...