Dalam hidup, suatu yang wajar jika banyak hal yang terlewatkan, wajar saja
mengingat hal itu bukan berarti meninggalkan dan melalaikannya. Hanya sekedar
terlewatkan. Namun bagaimana jika hal tersebut justru sangat berpengaruh bagi
keseluruhan hidup kita. Tengok saja peternak ayam potong, intensitas pakan dan
vitamin dalam minuman si ayam tentunya juga berpengaruh besar di hari panen. Detail-detail
kecil bisa jadi begitu berpengaruh untuk kita cermati. Banyak hal semacam ini
terjadi, tidak hanya teruntuk para peternak.
Misalnya saja, dalam urusan
melaksanakan ibadah dalam keseharian, baik itu mahdhah—ibadah paten yang
tidak memungkinkan adanya inovasi—ataupun ibadah yang bukan mahdhah seperti
sedekah dan sebagainya. Ini bukan masalah syari’at dan tata cara kita
menjalankannya. Karena dua hal ini sudah terlalu umum untuk dibicarakan. Ini
hanya masalah niat. Terlalu sederhana mungkin jika dilihat dari kulitnya, tapi
sebenarnya ada hal kecil namun berpengaruh yang mungkin telah terlewatkan dan harus kita telaah
kembali.
Sebagai hamba, ketika beribadah ada beberapa tingkatan yang menyertainya,
ada yang cenderung melakukannya atas dasar ketaatan yang penuh rasa “takut
kepada atasan” yang disematkan kepada Tuhan. Semua kemudian berputar pada rasa
ngeri akan neraka, menghindari adzab, mencegah diri dari yang haram. Berusaha
menghindari sejauh-jauhnya yang namanya dosa. Di sini, seakan-akan Tuhan adalah
Maha Pengancam yang sadis. Sehingga kita takut dan mengerjakan apapun yang di
perintahkan. Hal ini sebenarnya sah saja, bahkan sangat dibutuhkan ketika kita
begitu merasa hina dan dosa terlalu berat menumpuk di atas pundak kita.
Tingkatan ini sangat dibutuhkan dalam kadar tempatnya.
Namun akan sangat riskan jika kita terus menerus stagnan di tempat. Sebut
saja kita memiliki guru yang sangat pemarah dan ahli memberikan hukuman,
sehingga tak satupun murid yang berani padanya. Jika murid-muridnya begitu
rajin masuk pelajaran dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan Sang Guru,
seberapa besar kita yakin bahwa motivasi si murid benar-benar karena menuntut
ilmu? Atau mungkin karena takut akan hukuman yang telah menanti?
Lalu ada lagi yang yang beribadah karena rasa ngarep akan
karunia-Nya. Mereka tenggelam dalam lautan angan akan “bonus dari atasan” yang
disematkan pada Tuhan. Semua lalu berputar kembali pada rasa harap yang tinggi terhadap
syurga, mengejar-ngejar pahala, serta mencari-cari apapun yang halal. Berusaha
mengais-ngais pahala di segala lini hidup. Tingkatan ini tentunya amat bagus
karena mencerminkan fastabiqul khoirot. Hal ini tentunya hanya terjadi
ketika seorang hamba sudah amat begitu percaya akan dirinya sendiri. Begitu
pula ia telah berbaik sangka selalu terhadap Tuhan Penciptanya. Sehingga
motivasi beribadahnya juga lebih baik dari yang sebelumnya.
Lalu ada lagi yang beribadah karena rasa ”cinta akan kekasih” yang begitu
menggebu akan Tuhannya. Layaknya sang pencinta, ia tak akan segan-segan
memberikan apapun yang dimiliknya hanya demi Sang Kekasih. Kita Yang
dicintainya memanggil, ia tak akan berfikir panjang untuk memenuhinya. Tentu
saja ia bahagia. Ia tak pernah merasa tertekan atas tuntutan ibadah yang
terus-menerus dilakukannya. Tentu saja ia ikhlas. Tak pernah terbesit sedikit
pun di benaknya akan imbalan yang harus ia dapatkan karena abdi-nya pada yang
dipuja-puja. Sujud dan tunduk mereka kepada Tuhan atas dasar cinta dan
pengabdian yang tinggi
Dari tiga pendekatan tadi, yaitu konteks “takut”, “ngarep” dan konteks
“cinta”, saya yang masih termasuk dari orang biasa yang awam tentunya lebih
condong kepada konteks “takut”, dan terkadang juga “ngarep”. Karena sejujurnya
tingkatan “cinta” itu hanyalah milik Sang Pencinta sejati. Ya, kaum Sufi. Bahkan
ada yang sampai tidak menikah dan berusaha mengunci nafsunya seperti Rabi’ah
Al-Adawiyah karena saking ikhlas dan cintanya dalam menghamba. Tentunya saya rasa
hal tersebut terlalu muluk, karena pribadi saya hanya manusia
biasa yang masih merasa membutuhkan interaksi dan tentunya timbal balik dari
setiap perbuatan. Jangankan yang aneh-aneh, chatt WhatsApp tidak dibalas saja
menggerutu apalagi dalam urusan ibadah kepada Tuhan.
Ironisnya, selalu saja ada yang berlebih-lebihan dengan konteks pendekatan kubu masing-masing. Ada yang berlebihan takut dengan ancaman-Nya
sehingga melupakan kemurahan-Nya. Lupa bahwa Allah itu Ghofurur Rahim.
Yang Maha Mengampuni Lagi Maha Penyayang. Bahkan
sampai menakut-nakuti kepada sesama hamba.
Beribadahtak hanya menjadi ajang kita
menjalankan kewajiban saja, ia bahkan bisa saja menjadi rasa tertekan
dan takut akan adzab-Nya.
Begitu pula sebaliknya dengan konteks “ ngarep” dan “cinta” pun juga banyak yang mengakibatkan seseorang terlalu
berlebihan memandang keagungan rahmat dan pengampunan-Nya. Sehingga dalam dalam
beribadah cenderung sembrono dan semaunya sendiri. Lupa bahwa Allah itu Syadiidul
‘Iqab, Maha dahsyat hukuman-Nya. Sebagaimana cinta, tentu akan ada proses
dan lika-likunya. Kadang kita sangat ta’at dan tergila-gila karena cinta
tersebut. Tapi kadang cinta tersebut juga melemah sehingga kita cenderung bosan
dan mencari pelampiasan dengan dosa dan maksiat kepada-Nya.
Terlepas dari adanya beberapa konteks pendekatan ibadah ini, kenyataan
bahwa Allah itu Ghofurur Rahim dan sekaligus Syadiidul ‘Iqab
telah melahirkan konsep sikap khauf (cemas), rajaa (harap) serta mahabbah
(cinta) kepada Sang Maha Segalanya. Orang beriman akan selalu berada
diantara kecemasan dan harapan. Itu pasti. Karena iman
juga selalu berubah-ubah kedudukannya. Mereka memiliki rasa khauf dan rajaa
yang seimbang. Cemas tidak mendapat rahmat dan ampunan, dan berharap mendapat
rahmat dan ampunan-Nya. Sehingga sebagai orang yang beriman kita dituntut untuk
tidak boleh putus harapan, tapi juga tidak boleh hanya mengandalkan harapan.
Intinya,
sebagaimana ajaran dasar dan umumnya kita sebagai umat Islam. Hendaknyalah kita
berlaku tawassuth dan adil dengan mengambil jalan tengah antara “takut”, “ngarep” dan “cinta” tersebut, dengan mengambil pokok-pokok dari ketiganya yang paling penting dan pas serta dekat bagi
keadaan diri kita masing-masing. Sehingga tentunya menurut kita
lebih diperlukan dalam pengaplikasiaannya. Serta tidak
berlebih-lebihan dalam sikap dan setiap permasalahan yang kita hadapi. Bukankah berlebih-lebihan dalam mencintai itu juga tidak baik—bisa-bisa
kita tidak enak makan dan tidur. Bukankah berlebih-lebihan dalam berharap juga
tidak baik, bisa-bisa kita akun jatuh dalam jurang kekecewaan. Apalagi
berlebih-lebihan dalam hal takut akan suatu hal. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar
Posting Komentar