Langsung ke konten utama

DAN SENYUM ITU PUN MEREKAH


A man Besides The Dome of Rock
       
             Setetes embun mulai meluruh jatuh ketika malam yang begitu dingin menyelimuti bumi Palestina. Bersamaan dengan deru peluru yang saling bersaut-sautan dalam gelap yang kelam. Disambut tangis yang menyayat hati nurani siapa pun yang masih memiliki hati. Penjajahan menindas kemerdekaan mereka. Kebahagiaan mereka terenggut dalam sangkar besar bernama perang. Detik-detik dalam napas mereka terasa berat untuk dilepaskan, seakan udara tak mau lagi dihembuskan dari remuknya dada mereka.
            Dan mereka pun mulai melawan. Titik-titik perjuangan dikobarkan dari paraunya suara mereka. Pekik takbir dikumandangkan bersamaan dengan desingan semangat mereka memperjuangkan hak miliknya. Mereka tak bisa sembunyi dan berpangku tangan begitu saja menerima nasib yang ada, mereka harus memperjuangkan tanah yang telah mereka tempati sekian lama. Namun, perjuangan mereka tak pernah menggoreskan senyum. Kekuatan mereka tak pernah seimbang dengan lawan.
Kisah panjang ini semakin muram ketika Zionis-Israel dengan bantuan Donald Trump mengesahkan Yerusalem sebagai ibu kota baru bagi Israel. Mengabaikan seruan lantang seluruh negara-negara dunia yang mengecamnya. Nada-nada sendu pun mengalir deras dari pelupuk mata Palestina. Mengiringi alunan sejarah yang penuh berdarah-darah.
            Palestina merupakan tanah yang istimewa. Negara kecil dengan ribuan kenangannya. Sejarah manusia dengan segala konflik yang menyertainya mungkin saja berawal dari sini. Di Palestina kita tentu tahu terdapat Kota Yerusalem atau Baitul Maqdis atau Al-Quds atau Baitul Lahmi atau Bethlehem. Kota kecil yang begitu bernilai besar tidak hanya bagi Islam saja, namun juga bagi Agama Yahudi dan Nashrani.
              Bagi Yahudi, Yerusalem merupakan kota yang didirikan oleh Nabi Sulaiman untuk Kaum Bani Israil. Mereka meyakini bahwa itulah kota yang dijanjikan Tuhan untuk mereka (The Promised Land). Nabi Musa yang melahirkan Agama Yahudi pun juga membawa kaumnya lari dari cengkeraman Fir’aun menuju tanah Yerusalem.
Bagi Nashrani, Yerusalem merupakan tempat lahirnya Nabi Isa, Sang Yesus Kritus Tuhan mereka. Agama Kristen dengan berbagai macam polemiknya pun juga lahir dan berkembang pesat di tanah Yerusalem.
Bagi Islam, Yerusalem dengan Masjidil Aqsha-nya merupakan arah kiblat awal kaum muslimin, hal ini karena Masjidil Aqsha merupakan masjid kedua yang dibangun di muka bumi. Selain itu, melalui Masjidil Aqsha pula perjalanan menakjubkan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad terjadi. Sebuah tonggak besar disyari’atkannya ibadah sholat bagi seluruh umat muslim. Belum lagi puluhan redaksi hadits Nabi yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan tanah Yerusalem.
            Melihat fakta asalnya, tentu Yerusalem merupakan tempat yang begitu penting. Apalagi tiga agama yang berkaitan di kota suci ini merupakan agama-agama yang besar dan mayoritas pemeluknya begitu banyak dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Maka akal kita akan memahami alasan begitu banyak keinginan dan harapan yang menggebu-gebu untuk memiliki sepenuhnya ‘Kota Suci Tiga Iman’ ini.
    Namun mengapa sejarah begitu kejam melukiskan perjalanannya? Mengapa harus selalu ditempuh dengan perang dan derai tangis yang mengiringi? Tak bisakah ketiga agama ini bersanding bersama dalam ikatan damai?
Palestina dan Yerusalem merupakan contoh kuat betapa seringnya kita mendengar perseteruan yang menghancurkan kemanusiaan namun berlandaskan dasar atas nama agama. Agama yang selalu mengajarkan kebaikan dan perdamaian malah disalahgunakan untuk menghancurkan perdamaian itu sendiri. Sebut saja Perang Salib, Perang Hittin hingga Perang Israel-Palestina yang telah berlangsung begitu lamanya.
Namun ingatkah kita, bahwa sebenarnya kita masih bersaudara dengan Yahudi dan Nashrani? Beratus-ratus tahun jauh sebelum Kota Yerusalem berdiri, tempat ini telah ditempati oleh banyak penduduk, kota tersebut dulunya bernama Kana’an. Dan salah satu penduduknya adalah Nabi Ibrahim. Dari Nabi Ibrahim lahir juga lahir dua orang Nabi yang besar. Mereka adalah Nabi Ishaq dan Nabi Ismail. Dari Ishaq lahirlah Nabi Ya’qub yang bergelar Israil. Kemudian dari Ya’qub-lah terlahir ke-dua belas putranya yang dikenal dengan Bani Israil. Lalu, dari Ismail lahir jauh setelahnya Baginda Nabi Muhammad. Nabi Umat Muslim.
Islam masih satu keluarga dengan Kristen dan Yahudi. Lalu, apakah kita memang harus berseteru dengan keluarga kita sendiri? Apakah kita juga seperti saudara dalam keluarga yang ikut berebut jatah sawah peninggalan nenek moyang? Mungkin pertanyaan ini tak perlu dijawab, kemanusiaan dan hati nurani manusia yang fitri lebih paham jawabannya.
Namun setidaknya, ingatlah betapa pun berseterunya Islam dengan Yahudi dan Nashrani, kita selalu mendoakan dalam setiap tahiyat sholat kita “... Kamaa Shollaita ‘alaa Sayyidina Ibrohim, wa ‘alaa aali Sayyidina Ibahim”. Mengapa kita tidak menspesifikkan saja mendoakan Keturunan Nabi Isma’il? Namun juga turut serta mendoakan keturunan Bani Ibrahim dimana disitu mencakup Kaum Yahudi dan Nashrani?
Namun setidaknya, tirulah kebesaran hati sikap mau menerima Ali bin Abi Thalib ketika kalah dalam pengadilan melawan pemuda Yahudi karena permasalahan penggadaian baju perang Rosul. Karena masalah gadai bukan masalah agama, tapi masalah manusia. Begitu pula dengan konflik di Palestina, ini bukan tentang agama, ini tentang kemanusiaan.
Namun setidaknya, tirulah kesabaran Nabi Muhammad ketika dikhianati Kaum Yahudi Bani Nadhir, Qainuqa’ dan Quraidhah dalam Piagam Madinah. Karena Piagam Madinah bukan tentang agama, namun undang-undang yang mengatur urusan kemanusiaan dan kemasyarakatan masyarakat Madinah. Begitu juga dengan Palestina, ini bukan konflik agama, ini adalah konflik kemanusiaan.
Lalu, salahkah jika jalan diplomasi dan diskusi merupakan solusi dari semua rentetan kejadian di Yerusalem? Mengapa kita tak menciptakan kedamaian dengan jalan damai? Sehingga akan sirna dalam wajah umat manusia, sunggingan kemarahan dan amarah dendam. Sehingga akan tergores kembali dalam wajah umat manusia, sebuah simpul tipis di bibir mereka yang merekah indah. Dan mereka pun tersenyum kembali. Wallahu A’lam bis Showwwab.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

RESAHNYA KAKEK PENUMPANG SHOLAT JUM’AT

Ilustrasi Mbah Uwais Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan. Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan muncul di hati nya.   Karena ghirrah ditambah watak ngeyel nya yang tinggi tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan , di mana saja ia menumpang . Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan, terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang berkobar-kobar penuh semang...