“Le, lek awakmu kepingin nerusno nang luar negeri, Insya Allah
ayahmu gak masalah. Mboh lek ibukmu. Penting siji ae gawe awakmu, entekno disek
ilmune kiyai-kiyai ndek Jowo!.”
Datar saja kalimat tersebut keluar dari mulut ayahku saat aku pertama kali menyampaikan niat untuk melanjutkan kuliah di salah satu negeri Timur Tengah atas ajakan salah seorang teman. Tapi bagiku ini bagai sebuah hentakan yang lumayan dahsyat. Keinginan sekilas itu pun runtuh seketika. Namun, dari perkataan tersebut aku tahu pasti bahwa sebenarnya dari lubuk hatinya ia begitu menjaga pribadi anaknya ini dari pengaruh luar, baik itu pengaruh moralitas, akhlak, kebiasaan ataupun juga akidah serta faham-faham yang berbeda dengan keluarga. Hal itu pula yang membuatnya terus memondokkan anaknya ini di pesantren, bahkan sampai sekarang. Dari perkataan itu pula yang membuatku semakin yakin bahwa ia menyimpan beribu makna yang tersirat di balik diamnya.
Baginya yang selama ini memang hanya mengemban ilmu di Kediri, Jawa Timur yang kental tradisi pesantren dan salaf-nya. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya disana sudah lebih dari cukup. Asal bermanfaat dan barokah, ia sudah bersyukur. Asal bisa diamalkan bagi masyarakat sekitar, ia sudah bahagia. Begitulah ia, tak pernah muluk-muluk harus mengejar target yang macam-macam. Sesederhana itu.
Sepertinya hal ini yang coba ia sampaikan melalui perlakuan kepada anak-anaknya. Apalagi kepada kakakku yang setelah lulus Madrasah Tsanawiyah hanya mondok saja di Ploso Kediri tanpa pernah menduduki bangku sekolah Madrasah Aliyah, bahkan ujian penyetaraan paket C pun dia kini enggan. Sungguh sebuah langkah dan pemikiran yang mungkin akan asing jika di dengar oleh anak muda millenial saat ini—termasuk saya sendiri—yang dituntut sebuah gelar sarjana demi kelanjutan hidup dan pekerjaannya. Begitulah memang. Sesederhana itu.
Setelah peristiwa itu berlalu sedemikian lamanya, saya melihat ceramah K.H. Marzuki Mustamar dari video yang dibagikan salah seorang teman. Kurang lebih intinya begini, “Selama ilmu keislaman bisa tuntas di Indonesia, nggak usah kakean polah terus keluar negeri. Kalau sekiranya bisa khatam Shohih Bukhori di Indonesia, cukup di Indonesia. Kalau seandainya kepingin ahli Ulumil Qur’an di Indonesia, maka cukup selesaikan di Indonesia saja. Mengapa demikian? Kalau hanya kepingin alim saja harus ke luar negeri dari kecil memang pulang berhasil alimtapi nantinya ia menjadikan Pancasila kafir.” Saya terdiam sejenak. Namun di waktu yang singkat itu fikiran saya melalang buana kesana kemari. Tanpa sadar aku mengucap syukur tanpa henti. Namun masalah memang tak akan berhenti sampai di sini. Terutama bagi sang negeri tercinta ini. NKRI.
Sedikit banyaknya, harus kita sadari bahwa eksodus besar-besaran pelajar ke luar negeri ini menjadi akar dari maraknya orang yang kurang begitu mencintai negerinya. Termasuk kultur budaya, adat kebiasaan, bahasa, cara berpakaian dan berbusana bahkan sistem dan ideologi negara sendiri. Jika dalam ruang lingkup nahdliyyin, bisa saja tradisi yang sudah lama mengakar di kampungnya seperti tahlilan ataupun nyelameti orang yang sudah meninggal akan ditinggalkan bahkan ia kecam dan dibid’ah-bid’ahkan. Alangkah bahayanya jika ini sampai terjadi.
Tentunya hal ini memang tidak terlepas dari kultur yang sangat berbeda anatara budaya di luar negeri dengan budaya di Indonesia. Saya sendiri jika hidup di luar negeri selama beberapa bulan saja, pastinya akan langsung membanding-bandingkan anatara keadaan di Indonesia dengan negara tempat tinggal yang baru. Dan kebanyakan, perbandingan ini mengarah ke hal yang buruk bagi negara asal. Lalu nasionalisme akan memudar perlahan-lahan, tertelan kebahagiaan di negeri orang. Akhirnya ia pun lupa dengan identitas diri dan negaranya.
Hal ini tentu tak begitu berdampak bagi orang banyak, mungkin hanya bagi orang-orang di sekitarnya saja. Namun akan menjadi masalah yang sangat serius jika pemahaman ini disebar luaskan di Indonesia. Lalu bagaimana jika faham asing ini juga masuk begitu mudahnya ke Indonesia lewat para mahasiswa yang telah terdoktrin dan pulang membawa faham barunya ke rumah kita? Dan kita harus mengakui bahwa pemikiran produksi luar negeri yang bertentangan dengan Pancasila memang telah ‘dipaksakan’ untuk dikonsumsi orang Indonesia. Dahulu saja, PKI dengan marxismenya yang membawa adalah akademisi lulusan kuliah negara-negara komunis.
Sekarang ini, yang muncul dan marak disusupkan ke mahasiswa di Indonesia adalah Hizbut Tahrir dengan khilafahnya yang didirikan Taqiyuddin bin Ibrahim An-Nabhani asal Palestina. Faham-faham ini tentunya sangat tidak cocok dan bertentangan dengan nilai-nilai dasar negara Indonesia itu sendiri. Ini baru contoh yang gamblang dan kita sadari saja. Karena Hizbut Tahrir Indonesia memang sudah dilarang di Indonesia, meskipun pemikiran para pengikutnya yang telah didoktrinisasi—yang memang kebanyakan para pemuda mahasiswa—dan terpengaruh siapa yang tahu?
Namun contoh yang gamblang ini menyebabkan contoh samar yang akan berubah menjadi lebih mengerikan lagi. Bagaimana para pemuda-pemuda begitu membanggakan kelompok keagamaannya sendiri dan merendahkan agama lain. Jangankan yang berbeda agama, yang berbeda aliran serta pemikiran saja dicerca dan dihakimi sepihak. Intoleran. Sepertinya itu kata yang sangat pas untuk menggambarkan begitu masifnya proses radikalisasi agama saat ini. Mungkin mereka lalai bahwa mereka adalah rakyat Indonesia yang menjunjung tinggi perbedaan. Mungkin mereka lupa bahwa mereka tak bernafas sendirian dalam beribadah, dalam bermasyarakat, dalam menjalani hidup. Nilai Bhinneka pun akan pupus dengan sendirinya.
Namun meskipun begitu, sepelik apapun masalah yang dihadapi akan selalu ada putra bangsa serta pelajar-pelajar intelektual yang hebat milik bumi pertiwi. Yaitu mereka yang meskipun belajar menuntut ilmu ke luar negeri, ia tak terpengaruh dengan budaya dan faham keagamaan ataupun ideologi politik di sana. Di hatinya selalu ada nama Indonesia. Di sukmanya tertanam kuat lambang Bhinneka. Bahkan dengan gemilangnya, ia mengenalkan budaya kita kepada masyarakat di sana. Tak kurang ratusan kesenian dan identitas khas nusantara yang dipamerkan di luar negeri yang akhirnya diterima dan menjadi daya tarik bagi Indonesia sendiri. Merekalah orang hebat yang tak terkira menurut saya.
Intinya, di manapun pemuda Indonesia berada jangan sampai lupa dengan identitas aslinya. Tentunya hal ini juga menjadi tantangan bagi pelajar dimanapun ia berada. Bagi pelajar di dalam negeri juga harus selalu waspada dan mawas diri menjaga aqidah diri dan identitas bangsa kita, karena memang kita agaknya telah ‘diserang’ oleh faham luar. Namun tantangan ini akan semakin terasa bagi pelajar yang langsung berkecimpung langsung dan menjadi minoritas di kandang asing yang jauh dari rumah sendiri. Melihat begitu beresikonya pilihan yang kedua ini, saya rasa perkataan yang tersirat dari Ayah memang lebih aman. Wallahu A’lam bis Showwab.

bagus sekali, sangat menginspirasi
BalasHapus