![]() |
| Ilustrasi Mbah Uwais |
Karena berbagai kesibukannya dalam menjalani kerasnya hidup, Mbah Uwais
sudah sering keluyuran kemana-mana. Dan tidak seperti kebanyakan orang Islam
yang lain, Mbah Uwais sudah pernah ‘numpang shalat jum’at’ entah di
berapa ratus masjid, atau setidaknya di beberapa puluh masjid di berbagai
pelosok daerah di Nusantara. Pastinya semua pengalaman itu selalu menggiurkan.
Makin banyak masjid yang didatangi, makin banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, makin besar pula percikan rasa bangga dan semangat ghirrah keagamaan
muncul di hatinya.
Karena ghirrah ditambah watak ngeyelnya yang tinggi
tersebut itulah, ia selalu tak bisa tenang ketika di dalam masjid. Misalnya saja
dalam hal khutbah. Diam-diam Mbah Uwais ini mengamati
tipe-tipe pola dan tema-tema khutbah disampaikan, di mana
saja ia menumpang. Para khatib kita aneh-aneh. Terkadang eksentrik dan mengharukan,
terkadang pula teduh dan menidurkan. Ada juga yang
berkobar-kobar penuh semangat, tak kalah dibanding gelegar suara Bung Karno di
podium Negara atau Bung Tomo dulu yang mengumandangkan jihad lil bilad.
“Jama’ah
Muslimin yang berbahagia!,”demikianlah bunyi khutbah Jum’at
pada suatu siang yang gerah. “Ketahuilah! Rasulullah Muhammad itu diutus oleh Allah ke muka bumi ini untuk
membawa kebenaran agama Islam!,” nadanya tinggi dan
berkobar-kobar.
Tergelitiklah hati Mbah Uwais. Ia kaget setengah mati karena tiba-tiba rasa dan kesadaran waktunya
kacau: apakah aku sedang hidup pada abad ke-7 Masehi? Seolah-olah baru kemarin
sore Nabi Muhammad dinobatkan sebagai Rasulullah melalui
Jibril. Oh, Mungkin begitu. Pasti para jemaah di masjid ini mualaf semua!
Sehingga masih belum tahu informasi paling dini soal agama Islam.
Pada
kesempatan sholat jum’at yang lain, sang Khatib mengemukakan beberapa contoh
perintah dan larangan Allah, kemudian memberi semacam kunci—“Ini yang ngomong
bukan saya, lho!” Vokalnya menggelegar memenuhi ruangan masjid.
“Andaikata saudara-saudara memiliki kehendak untuk melanggar,
ya silahkan saja! Yang berfirman ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada di Kitab suci Al-Qur’an. Saudara-saudara boleh selidiki sendiri. Al-Qur’an itu setiap hurufnya terjamin kemurnian dan
orisinalitasnya. Saya sebagai hamba hanya bisa sekedar mengutip.” Lalu kalimat itu akhirnya disambung dengan
beberapa penyelesaian akhir, “Andaikata saudara hendak melanggar,
silahkan saja, tapi tanggung resikonya sendiri! Jangan salahkan siapapun kalau kelak saudara-saudara disetrika dengan bulldozer api dan
lidah Saudara disayat-sayat dengan pisau bara!”
Beruntunglah
Mbah Uwais, bahwa ia dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan kaum
Muslim. Khotbah yang meledak-ledak seperti itu membuat para jamaah pendengar hidup dengan penuh
semangat. Kalau difikirkan kembali, memang kita hidup ini sangat butuh ancaman, dan
para khatib selalu sukses memberitakan kepada kita bahwa Allah adalah Sang Maha
Pengancam yang sadis.
Pada saat lain, Mbah Uwais berkesempatan mendengarkan khutbah yang penuh
dengan siraman ketentraman, sehingga perasaannya tenang dibuatnya, termasuk
juga bagian tubuh lainnya. Matanya. Ia Ngantuk. Khatib mengemukakan soal
perlunya meningkatkan iman dan taqwa, tanpa sekali pun pernah menjelaskan
secara gamblang apa sesungguhnya taqwa itu. Iman, tawakkal, khauf, dan lain-lain selalu hanya disebut dalam makna
global dan abstrak. Namun, toh pada akhirnya Mbah Uwais tak membutuhkannya. Sebab, selama khotbah berlangsung Mbah Uwais merasa tenteram dan terkantuk-kantuk.
Ada juga
khutbah yang berbicara secara gamblang dan ‘tinggal
landas’, “Insya Allah kita semua akan hidup sejahtera. Maka,
marilah kita bersyukur atas rahmat yang telah
diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
berterima kasih kepada pemerintah yang .........” Hmm, Mbah Uwais kehabisan kata-kata.
Atau, ada juga khutbah progresif yang mengecam para tukang makar, “Banyak
khatib yang memanfaatkan ibadah Jum’at untuk maksud-maksud politis! Maka, dengan
ini saya ulangi hendaknya kita jangan membawa-bawa masalah politik ke dalam
masjid!” Mbah Uwais senantiasa merasa terharu mendengar pernyataan politik semacam
itu.
Ada juga
khutbah yang aneh: sesudah ajakan iman taqwa, khatib lantas berkata, “Amma
ba’du. Saudara-saudara, dalam seminggu ini kita sudah harus bisa
merampungkan perbaikan jembatan. Juga tolong ditata pembagian kerja di sawah
sebelah timur desa. Kemudian saya dengar kok ada kisruh dalam manajemen
koperasi simpan pinjam kita? Bagaimana itu? Tolong dibenahi, deh…!” Sungguh menarik.
Sepertinya contoh terakhir inilah bentuk sederhana dan terang-terangan dari
yang dinamakan
khutbah bil-hal. “Kebanyakan
kelompok kaum Muslim di Negeri tak mengalami model khutbah semacam itu, tapi
hanya dijejali oleh khutbah-khutbah abstrak dan asing yang tak ada kaitannya dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari”, desis Mbah Uwais kepada dirinya sendiri.
Secara kompleks dan samar, khutbah bil-hal ini tak akan lagi
terdengar aneh. Karena faktanya masih ada beberapa kita temui para pengkhutbah
yang mengambil contoh tema yang dekat dengan permasalahan di kehidupan
sehari-hari—termasuk di daerah pedesaan—para jamaah pendengarnya. Realitas
sosial dan kultur budaya masih tersampaikan dalam bahasa yang begitu
komunikatif, terutama jika ada yang berkhutbah dengan menggunakan Bahasa Jawa
yang halus atau Krama Inggil. Namun yang semacam ini semakin tergerus.
Semakin sedikit. Padahal dulu sangat banyak khutbah semacam ini di mana-mana.
Sungguh, jika mengenang akan hal itu Mbah Uwais jadi turut senyum-senyum
sendiri tanpa disadarinya.
Padahal Mbah Uwais bisa saja keliru. Khutbah-khutbah kita yang tergerus
zaman bukan tak lagi terkait dengan realitas sosial. Lha wong umat
kita memang sudah relatif tak punya problem, kok. Jadi khutbahnya ya memang sudah seperti asing saja. Antah berantah. Wallahu
A’lam bis Showwab.

Terus mbahe meng cocok sing endi?
BalasHapusKalau Mbah Uwais lebih cocok khutbah bil-hal, tapi yang lebih penting ikut sholat Jum'at kang :D
BalasHapusmasalah yg sangat dekat dengan kita
BalasHapus