“Ada beribu alasan untuk jatuh cinta, namun cinta seungguhnya tidak
membutuhkan alasan untuk mencintai dan dicintai. Karena cinta letaknya di dalam
hati yang terdalam, bukan di dalam akal pikiran.”
Azhar adalah seorang remaja seperti pada umumnya, lengkap dengan
lika-liku hidup yang penuh kegalauan. Dia mungkin salah satu dari segelintir
remaja yang tidak biasa, disaat teman sebayanya sibuk dengan urusan percintaan,
Azhar
justru tidak tertarik sedikitpun tentangnya. Bahkan Azhar
menganggap bahwa cinta itu suatu hal yang tidak penting dan hanya membuang
waktu saja.
Waktu beranjak dari tahun ke tahun,
hingga suatu ketika Azhar menemukan buku sastra-religi yang tidak pernah ia ketahui
sebelumnya, memang Azhar bukanlah orang dengan minat di bidang seni. Raut wajah
terpukau sekaligus kagum bercampur aduk dengan bingung tampak selama dia
membolak-balik lembaran buku tersebut. Azhar baru mengerti makna budaya itu
seperti apa, ternyata budaya merupakan suatu produk luhur dalam kehidupan
manusia, jauh dari persepsinya selama ini yang beranggapan bahwa budaya hanya
sebagai seni penghibur. Salah satu hal yang memantik ketertarikan azhar adalah
“cinta”.
Buku tersebut mulai awal hingga akhir berisikan bahasan tentang
cinta, antara Pencinta dan Yang Dicintai. Azhar terngingang-ngiang dengan kandungan
buku tersebut hingga berhari-hari berikutnya. Ketertarikannya yang bertambah
membuatnya semakin rajin membaca buku sejenis yang lainnya, dan ternyata yang
ditemukannya sungguh luar biasa. Azhar merasa “bersalah” sekaligus “berdosa”
karena mendiskreditkan arti cinta selama belasan tahun, selama ini ia beranggapan
bahwa cinta hanya sebatas hubungan antara dua sejoli lawan jenis dengan
melibatkan perasaan ketertarikan yang mendalam. Ternyata anggapannya tersebut
salah besar, cinta tidak terbatas pada ruang lingkup tersebut, namun domain
cinta jauh lebih luas, seluas alam semesta. Termasuk hubungan kita dengan Sang
Khaliq merupakan bentuk mutlak cinta yang sejati.
Hingga suatu saat terbesit di pikiran azhar,
ia berandai-andai jika manusia tanpa cinta, mungkin sudah tidak dapat disebut
sebagai manusia lagi, karena rasa kemanusiaan juga berangkat dari rasa cinta. Tanpa
cinta, manusia bukanlah manusia.
Manusia tanpa cinta ibarat pohon apel tanpa daun, ia akan kering
dan tak dapat berbuah, dapat dikatakan pohon tersebut bahkan telah mati sebelum
pohon itu mati untuk selamanya. Dalam artian pohon apel itu sekalipun masih
hidup dan bertumbuh, namun sudah tidak ada kemanfaatan padanya, hanya sebuah
batang menjulang tanpa daun apalagi buahnya. Manusia yang penuh cinta dalam
dirinya ibarat sebuah pohon apel dengan buah yang lebat dan bergelantungan.
Jika dahan pohon apel digelantungi banyak buah, maka buah-buahan itu akan
membuatnya merendah, sementara dahan yang tidak berbuah akan tetap tegak
menjulang ke langit. Ketika buah pada dahan itu sangat banyak, orang akan
memasang tiang penopang di bawahnya agar tidak roboh. Manusia dengan penuh
cinta dalam dirinya akan selalu berusaha mencintai manusia lain tanpa sayarat,
ia hanya melaksanakan kewajibannya sebagai manusia untuk memanusiakan manusia
lainnya. Menghargai manusia lain selayaknya manusia, tidak kurang dan tidak
lebih.
Jika cinta tersebut semakin besar, maka akan terlihat dari
kepribadiannya yang memandang manusia dengan pandangan yang sama, tidak peduli
itu orang gila ataupun Kepala Negara, dalam kacamatanya mereka sama-sama
manusia. Wajib untuk dihormati dan dicintai. Secara otomatis manusia seperti
ini akan dicintai oleh orang di sekitarnya, bahkan warga langit sekalipun akan
tersenyum padanya. Manusia-manusia seperti ini selalu menggunakan kacamata
humanisme dalam kehidupan sosialnya, tanpa melupakan aturan-aturan semesta yang
dibuat Tuhannya.
Azhar juga teringat dengan istilah
yang sering didengar dari kawan sebayanya, cinta buta. Ia tidak pernah
sekalipun menemukan “cinta buta” yang benar-benar “buta”, dalam artian cinta
yang tidak memerlukan alasan untuk mencintai dan dicintai. Bukan rupa, harta,
intelegensia dan lainnya yang menumbuhkan cinta. Tapi cinta yang berasal
dari hati terdalam, ruang bawah sadar, dan rasa yang mengalir di setiap tetes
darah serta merasuk di dalam relung jiwa.
Pemikiran tersebut terus menancap dalam
benaknya, hingga suatu saat ia melihat seorang
ibu dengan anak lelakinya yang sangat dicintai. Suatu ketika anak lelaki
tersebut berbuat kesalahan hingga membuat hati si ibu serasa amat tercabik, satu-satunya
anak lelaki kesayangan ibu tersebut berbuat kesalahan yang sangat fatal hingga
ibu ini marah besar. Kemudian apa yang dilakukan oleh anak lelaki tersebut? Dia
malah meninggalkan ibunya, pergi jauh selama beberapa hari tanpa memberi kabar.
Hati sang ibu tentu semakin tercabik dengan perilaku anak kesayangannya ini.
Anak lelaki ini tidak mau meminta maaf kepada ibunya, ia merasa dirinya benar,
bahkan hingga berbulan-bulan berikutnya masih saja tidak ada kata maaf yang
terucap dari mulut lelaki ini. Selama berbulan-bulan itu pula sang ibu selalu
menitikkan air mata ketika teringat dengan perilaku anaknya tersebut. Namun
tahukah bagaimana perasaan ibu tersebut? Ibu ini masih menuggu permohonan maaf
dari anaknya, sekalipun dalam hati terdalam tentunya sudah dimaafkan oleh ibu
ini. Ibu ini tidak lebih hanya ingin melihat i’tikad
baik dari anaknya tersebut untuk meminta maaf dan bertaubat. Tapi tetap saja
tak ada rasa penyesalan sedikitpun dari anak lelaki ini. Padahal puluhan tahun
ibu tersebut membesarkan anaknya dengan penuh cinta dengan perjuangan yang
berdarah-darah. Ibu ini bekerja puluhan tahun, berangkat pagi pulang sore.
Kemudian menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan perabotan,
dan tak pernah lupa selalu mendoakan anaknya agar sukses dan dilancarkan
hidupnya oleh Yang Maha Kuasa. Namun ketika anaknya sedikit sukses saja, ia
langsung acuh dan tidak menghiraukan perjuangan ibunya selama puluhan tahun
tersebut. Ibarat air susu yang dibalas dengan air getah.
Azhar akhirnya mulai berpikir bahwa
cinta setiap Ibu terhadap anaknya adalah “cinta buta”. Memang tidak bisa
dikatakan bahwa sepenuhnya benar ungkapan tersebut, namun kenyataannya
demikian. Sebesar apapun kesalahan yang dibuat sang anak, pintu maaf dan cinta
ibu dapat dipastikan selalu terbuka 1x24 jam dengan syarat anak tersebut
mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf. Sungguh tidak adil rasanya ketika
ibu memiliki cinta kasih yang begitu besar, tidak berimbang dengan cinta anak
terhadap ibunya. Namun begitulah Tuhan menciptakan rasa cinta di dunia ini.
Mungkin karena Cinta ibu yang sangat besar itulah, yang bahkan serasa tidak
mungkin dimiliki kaum Adam pada umumnya, Allah meletakkan surga di telapak kaki ibu. Bukan
di tangan ulama, syekh, kyai, gus, dan ustadz. Tapi di telapak “kaki” ibu kita
semuanya, siapapun beliau. Jangan sia-siakan kesempatan kita bersama malaikat
kecil yang bernama ibu ini, karena Malaikat Izrail tidak pernah memberi kabar
kapan akan mencabut nyawa kita, termasuk ibu kita. Lantas, sudahkah kita
memberi kabar ibu di rumah? Segeralah menelponnya. Semoga ibu kita semua diberi
umur yang panjang, manfaat, dan barokah.

Muantap masdar wes wkwk
BalasHapus