![]() |
| Sound of Majority |
Baru-baru ini, kami melihat video yang tak enak untuk ditonton. Ya,
video masak-memasak. Kenapa bisa memasak begitu menggerahkan untuk ditonton? Ya lihat saja apa yang mereka masak.
Dua orang bernama Coki Pardede dan Tretan Muslim ini memasak daging babi
dicampur air sari kurma. Membayangkannya membuatmu panas kan?
Apakah Nabi atau para sahabat pernah memasak daging
babi dicampur kurma?? Tidak!!
Sesungguhnya Tretan Muslim dan Coki Pardede telah melakukan
penghinaan dalam beragama. Karena itu mereka bukanlah golongan kami. Ya,
golongan kami adalah golongan yang paling benar. Bahkan seandainya zaman dulu
sudah ada media sosial—untuk membully—dan masa yang besar—supaya terlihat
superior—niscaya akan kami tuntut itu si Sufi perempuan, Rabi’ah Al-Adawiyah.
Kenapa juga si Rabi’ah itu ingin membakar surga dan menyiram api neraka? Itu
kan ‘simbol’ agama yang amat sakral bagi golongan kami.
Apakah Rabi’ah Al-Adawiyah tidak melihat betapa usaha
kami dalam mengakuisisi surga dan mengklaim orang lain tak berhak mendapatkannya? Apakah Rabi’ah tak melihat usaha kami untuk
membersihkan surga dari orang-orang seperti Gus Dur yang bilang Tuhan tak perlu
dibela?
Apakah Rabi’ah tak melihat bagaimana peluh keringat kami meneriakkan sumpah
serapah demi mengutuk para pembakar bendera agama kami? Pokoknya jangan sampai
ada yang berani bermain-main apalagi menghina ‘simbol-simbol’ sakral agama
kami.
Tapi
kalau ada yang bilang Nabi Muhammad tersesat, itu nanti dulu. Selain dia adalah
golongan kami landasannya pun jelas, ia berdakwah dan merupakan orang yang
berhak mengutarakan pendapatnya soal agama—meskipun ngawur. Atau tentang
instruksi haramnya menyolatkan jenazah pemilih si penista agama. Politik adalah
segalanya, bro!!
Belum
lagi kalau ada yang melakukan korupsi dengan menggunakan kode juz Al-Qur’an, tunggu
dulu lah, jangan terburu-buru. Jangan sampai kita mengintervensi penyelidikan
KPK, nanti bisa-bisa para koruptornya diberi hukuman yang berat lagi. Kan
mereka juga termasuk golongan kami.
Pokoknya,
kalau agama untuk dibuat bercandaan, guyonan dan kritikan itu tidak boleh.
Agama terlalu suci untuk sekedar dijadikan bahan guyonan. Yang boleh adalah
adalah jika agama digunakan untuk kepentingan politik golongan kami. Titik.
Hiya hiya hiya.
Yah,
pada akhirnya memang selalu begitu. Sepertinya beberapa paragraf narasi di atas
adalah gambaran betapa pola pemikiran rakyat Indonesia masih belum siap untuk
menerima sesuatu yang bersifat sarkasme dan satire. Coki Pardede dan
Tretan Muslim, salah satu dari sekian macam hiburan cerdas dan membuka pikiran
kita akhirnya satu persatu mulai mengkerut ditekan oleh pikiran-pikiran yang
memang sempit dan susah terbuka. Mereka pun memutuskan untuk bungkam dan
mundur.
Sebelum
ini pun kasusnya sudah berderet-deret. Mulai dari Ge Pamungkas, Joshua
Suherman, Uus hingga komika sekelas Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono pun pernah
tersangkut masalah yang sama. Kisah Coki dan Muslim seakan menjadi puncak dari
ledakan yang selama ini saya simpan.
Ya,
Indonesia bukan kali ini saja menunjukkan kualitas berpikirnya.
Kemarahan-kemarahan yang dilandasi fanatisme berlebihan membuat cacian dan hinaan
begitu mudahnya terlontarkan dari mulut dan tarian jari-jari kita. Bahkan ada
yang sampai mengancam untuk membunuh dengan dalih halal darahnya. Entah yang
seperti ini apakah memang karena membela agamanya—yang masih bertaraf simbol—atau
cuma sekedar iseng agar terlihat sangar dalam rangka membuat orang lain dalam under
pressure. Satu yang pasti, mereka membela agama justru dengan sesuatu yang
dilarang oleh agama.
Berkaitan dengan simbol-simbol agama, ironi
ini sebenanrnya mengingatkan saya akan sebuah kisah lucu yang sekaligus menjadi
sebuah ironi. Kisah tersebut adalah kisah Nabi Ibrahim.
Nabi
Ibrahim yang masih muda berdiri di depan para pemuka agama di pagi hari setelah
memenggal kepala banyak sekali berhala. Lucunya Nabi Ibrahim menggantung kapak
di satu patung paling besar yang disisakannya. Orang satu kampung marah,
mempersekusi dan menuntut Nabi Ibrahim untuk bertanggung jawab.
Nabi
Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka
tanyakanlah kepada berhala itu, jika ia dapat berbicara.” (Q.S. Al-Anbiya’:
63).
Meminjam
istilah Tretan Muslim dalam Majelis Lucu, ini adalah momen yang paling ultimate
lucunya. Seperti kita ketahui, respon yang spontan tak pernah berbohong. Ketika
kebenaran mulai nampak dari argumen Nabi Ibrahim, para penyembah patung yang
tersindir ini malah menggunakan cara kekerasan dan penyiksaan dengan dalih
penghinaan.
Apakah
kita merasa tersindir dengan guyonan cerdas Tretan Muslim dan komika-komika
lain. Jika iya, mengapa malah kita lampiaskan dengan kekerasan? Kenapa kita tak
bermuhasabah dan memperbaiki diri saja agar lebih baik?
Jika
Nabi Ibrahim dicerca oleh para penyembah berhala yang sudah tertutup nalarnya.
Maka bisa dibilang bahwa Coki dan Muslim adalah orang yang dicerca oleh para penyembah
ego, pemahaman dan wawasan subjektifnya sendiri.
Sudah
selayaknya kita menyikapi sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas, atau
setidaknya klarifikasi langsung kepada yang bersangkutan. Agar kita menjadi
golongan yang terlebih dahulu berpikir secara matang sebelum bertindak.
Melihat
dunia luar yang mana para komikanya sudah begitu bebas dan terbuka membahas isu-isu
sensitif semacam rasisme antar kulit putih dan hitam, isu agama, imigran gelap
Pakistan dan sebagainya—sebut saja Kumail Nanjiani, Chris Rock, Louis C.K dan
banyak lagi—setidaknya masih ada harapan. Jika kita tak mau nyungsep untuk
disama-samakan dengan kaum Nabi Ibrahim. Wallahu A’lam bis Showwab.

Komentar
Posting Komentar