Langsung ke konten utama

Postingan

Politisasi Hadits Zaman Khilafah

Mushtafa as-Shiba’iy (w. 1384 H) menyebutkan diantara motif menyebarnya hadits palsu adalah karena memuji personal secara berlebihan. Cinta berlebihan seseorang sehingga memujinya secara berlebihan dan membenci pihak lawan secara berlebihan itulah yang melatarbelakangi penyebaran yang masif adanya hadits palsu. Salah satu sosok yang banyak dipuji-puji dalam hadits palsu adalah Ali bin Abi Thalib. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) meriwayatkan dalam bukunya Al-Maudhu'at: عن يحيى بن معِين يَقُول وَسُئِلَ عَن الْعَلَاء بن عبد الرحمن فَقَالَ أحسن أَحْوَاله عِنْدِي أَنه قيل لَهُ عِنْد مَوته أَن لَا تستغفر الله؟ قَالَ لَا أَرْجُو أَن يغْفر الله لي، فقد وضعت فِي فضل عَليّ بن أبي طَالب سبعين حَدِيثا. (الموضوعات لابن الجوزي (المتوفى: 597هـ)، 1/ 339) Dari Yahya bin Main ketika ditanya tentang Ala’ bin Abdurrahman. Saya telah membuat 70 haris palsu seputar keutamaan Ali bin Abu Thalib. (al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, h. 1/ 339). Salah satu contoh hadits palsu berkaitan dengan Ali bin Abu Thalib...
Postingan terbaru

SUMBER YANG KERUH

Ada tiga unsur utama yang mempengaruhi suksesnya sebuah pendidikan bagi seorang individu. Sesuai namanya unsur pusat pendidikan ini terdiri dari tiga jenis, yakni sekolah, masyarakat dan keluargasang anak sendiri. Tri pusat pendidikan bisa dibilang merupakan manifestasi dari sumber pendidikan di mana seorang individu memperoleh nilai-nilai pendidikan.   Unsur sekolah, biasanya identik dengan pendidikan formal yang menyampaikan materi dan informasi yang amat sangat penting bagi kehidupan si anak. Sedangkan lingkungan masyarakat sebagai basis pendidikan non-formal berperan mengajarkan norma-norma, tatanan masyarakat dan skill berkehidupan yang juga diperlukan di masa depan. Begitu pula dengan keluarga sebagai tonggak pendidikan informal dan awal pendidikan bagi si anak itu dimulai, tentunya peran keluarga amat sangat penting bagi si anak sebagai bensin dalam menjalani masa depannya. Selayaknya sebuah unsur, tri pusat pendidikan ‘harusnya’ berjalan beriringan, ber...

Brotherhood Humanities di Era Millenial

“ Jangan kau berikan hikmah kepada orang yang tak berhak menerima; kau akan membuat hikmah itu salah makna. Dan jangan kau tahan hikmah dari orang-orang yang berhak menerima; kau akan membuat mereka salah arah ” –Maulana Jalaluddin Rumi                 Indonesia adalah Negara besar, baik dari segi teritorial maupun kultural. Hidup di Indonesia sama halnya dengan hidup ditengah kemajemukan. Ada ratusan suku, budaya, adat, bahasa daerah, serta berbagai macam keberagaman dan keberagamaan. Maka sangat lucu jika hidup di negeri yang kaya keberagaman ini, namun masih berkoar  –penuh semangat, nafsu, dan ambisi- untuk menyamakan dirinya sendiri dengan saudara yang lainnya. “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara ...

BUKAN GOLONGAN KAMI

Sound of Majority Baru-baru ini, kami melihat video yang tak enak untuk ditonton. Ya, video masak - memasak. Kenapa bisa memasak begitu me ng gerah kan untuk ditonton? Ya lihat saja apa yang mereka masak. Dua orang bernama Coki Pardede dan Tretan Muslim ini memasak daging babi dicampur air sari kurma. Membayangkannya membuatmu panas kan? Apakah Nabi atau para sahabat pernah memasak daging babi dicampur kurma?? Tidak!! Sesungguhnya Tretan Muslim dan Coki Pardede telah melakukan penghinaan dalam beragama. Karena itu mereka bukanlah golongan kami. Ya, golongan kami adalah golongan yang paling benar. Bahkan seandainya zaman dulu sudah ada media sosial—untuk membully—dan masa yang besar—supaya terlihat superior—niscaya akan kami tuntut itu si Sufi perempuan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Kenapa juga si Rabi’ah itu ingin membakar surga dan menyiram api neraka? Itu kan ‘simbol’ agama yang amat sa k ral bagi golongan kami.   Apakah Rabi’ah Al-Adawiyah tidak melihat betapa usaha k...

ASMARA DALAM ASRAMA KAMI

Our  Beloved Building Gedung asrama kami memang tak begitu megah, namun di sana ada berbagai kisah indah. Terlukis begitu saja. Tanpa terasa kami berproses, tumbuh besar dan menjalin asmara bersama dalam naungan gedung asrama yang sama.   Dulu, tiap malam canda dan tawa kami tumpah ruah. Cangkir-cangkir kopi malam berdentingan di antara kejauhan membentuk kepulan melodi menggugah. Seruput demi seruput tak terasa semakin mengasah secercah cerah. Percakapan-percakapan kami seringkali menggaungkan resah. Namun akan selalu teringat, akan tiba masanya percakapan itu menjadi susah diterjemah. Membuncah dalam desah. Karena keresahan itu ditanggung bersama tanpa banyak tingkah. Aku rindu saat-saat dulu ku merengek gundah, lalu ku temukan tempat bersandar lelah. Dan jika ku katakan bahwa aku mengharapkannya juga saat ini, sungguh aku tak tahu lagi harus mengutarakannya kepada siapa. Kini aku merasa seakan jarak sudah semakin mengaburkan realita dengan asa. Asa tersebu...

SUDUT PANDANG YANG BENDERANG

Our Point of View “Mengenal banyak sudut pandang membuat matamu terbuka lebar.” Sepertinya itu kalimat yang tepat namun singkat untuk menyatakan kekagumanku akan begitu banyaknya sosok hebat dalam satu waktu yang ku temui saat itu. Tidak hanya sehari saja, namun empat hari kami dipertemukan dalam suatu hotel untuk berkumpul dan berdiskusi membahas Pancasila dan keragaman di Indonesia. Adalah Komunitas Bela Indonesia, sebuah komunitas yang bisa dibilang berusia muda ini membawa saya untuk pertama kalinya mengenal begitu kayanya perbedaan yang ada. Melalui tagline Indonesia Rumah Bersama, kami belajar banyak hal yang menjadi landasan kita untuk terus mengkampanyekan Pancasila dengan Bhinneka-nya. Hal-hal tersebut antara lain berupa argumentasi agama tentang perbedaan, kemampuan menulis, berdebat serta social media management . Namun, bagi diri saya pribadi. Agaknya nilai dan kenangan berharga yang saya dapat jauh lebih besar dari semua itu. Sebelum datang ke komunitas...

KISAH SEORANG AHLI YANG KALAH SAING

Who's Better ? Kang Uwais baru saja keluar dari salah satu pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Selain itu, ia juga masih berstatus  fresh graduate  dari salah satu perguruan tinggi yang kebetulan berafiliasi dengan pesantren tersebut. Bahkan beberapa tahun sebelumnya, ia sudah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan santri di banyak pesantren di penjuru Jawa. Bisa dibilang, dia adalah santri idaman nan teladan yang juga terasah sisi akademisnya. Sungguh sebuah kriteria tepat di masa yang tepat. Saat di mana sedang manis-manisnya buah itu matang dan siap dipetik dari pohonnya. Ah, Kang Uwais sudah siap untuk menantang dunia. Dalam perjalanannya, ia sudah banyak berkhidmat dan berjuang untuk pesantren. Atas berkat pengabdian yang tak kenal lelah itulah, Pak Kyai begitu menyayangi Kang Uwais. Kang Uwais bahkan pernah ditawarkan untuk dijodohkan saja dengan anak Pak Kyai, atau paling tidak dengan salah satu santriwatinya. Sungguh kisah yang indah jika benar-benar...