Langsung ke konten utama

Postingan

ASMARA DALAM ASRAMA KAMI

Our  Beloved Building Gedung asrama kami memang tak begitu megah, namun di sana ada berbagai kisah indah. Terlukis begitu saja. Tanpa terasa kami berproses, tumbuh besar dan menjalin asmara bersama dalam naungan gedung asrama yang sama.   Dulu, tiap malam canda dan tawa kami tumpah ruah. Cangkir-cangkir kopi malam berdentingan di antara kejauhan membentuk kepulan melodi menggugah. Seruput demi seruput tak terasa semakin mengasah secercah cerah. Percakapan-percakapan kami seringkali menggaungkan resah. Namun akan selalu teringat, akan tiba masanya percakapan itu menjadi susah diterjemah. Membuncah dalam desah. Karena keresahan itu ditanggung bersama tanpa banyak tingkah. Aku rindu saat-saat dulu ku merengek gundah, lalu ku temukan tempat bersandar lelah. Dan jika ku katakan bahwa aku mengharapkannya juga saat ini, sungguh aku tak tahu lagi harus mengutarakannya kepada siapa. Kini aku merasa seakan jarak sudah semakin mengaburkan realita dengan asa. Asa tersebu...

SUDUT PANDANG YANG BENDERANG

Our Point of View “Mengenal banyak sudut pandang membuat matamu terbuka lebar.” Sepertinya itu kalimat yang tepat namun singkat untuk menyatakan kekagumanku akan begitu banyaknya sosok hebat dalam satu waktu yang ku temui saat itu. Tidak hanya sehari saja, namun empat hari kami dipertemukan dalam suatu hotel untuk berkumpul dan berdiskusi membahas Pancasila dan keragaman di Indonesia. Adalah Komunitas Bela Indonesia, sebuah komunitas yang bisa dibilang berusia muda ini membawa saya untuk pertama kalinya mengenal begitu kayanya perbedaan yang ada. Melalui tagline Indonesia Rumah Bersama, kami belajar banyak hal yang menjadi landasan kita untuk terus mengkampanyekan Pancasila dengan Bhinneka-nya. Hal-hal tersebut antara lain berupa argumentasi agama tentang perbedaan, kemampuan menulis, berdebat serta social media management . Namun, bagi diri saya pribadi. Agaknya nilai dan kenangan berharga yang saya dapat jauh lebih besar dari semua itu. Sebelum datang ke komunitas...

KISAH SEORANG AHLI YANG KALAH SAING

Who's Better ? Kang Uwais baru saja keluar dari salah satu pondok pesantren terkenal di Jawa Timur. Selain itu, ia juga masih berstatus  fresh graduate  dari salah satu perguruan tinggi yang kebetulan berafiliasi dengan pesantren tersebut. Bahkan beberapa tahun sebelumnya, ia sudah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan santri di banyak pesantren di penjuru Jawa. Bisa dibilang, dia adalah santri idaman nan teladan yang juga terasah sisi akademisnya. Sungguh sebuah kriteria tepat di masa yang tepat. Saat di mana sedang manis-manisnya buah itu matang dan siap dipetik dari pohonnya. Ah, Kang Uwais sudah siap untuk menantang dunia. Dalam perjalanannya, ia sudah banyak berkhidmat dan berjuang untuk pesantren. Atas berkat pengabdian yang tak kenal lelah itulah, Pak Kyai begitu menyayangi Kang Uwais. Kang Uwais bahkan pernah ditawarkan untuk dijodohkan saja dengan anak Pak Kyai, atau paling tidak dengan salah satu santriwatinya. Sungguh kisah yang indah jika benar-benar...

KERETA TUA ITU BERNAMA BHINNEKA

Senja yang cerah, Mbah Uwais termangu menunggu sembari duduk di kursi panjang yang telah disediakan. Di genggaman rapuhnya, kusut tersemat kertas tiket perjalanan kereta tua yang telah lusuh. Sudah berjam-jam lamanya ia menunggu sendiri. Ia lupa sudah berapa lama.   Terlalu aneh memang bagi seorang kakek renta untuk menunggu sendirian di sebuah stasiun yang ramai berlalu lalang orang-orang yang tak dikenalnya. “Orang-orang asing yang aneh,” begitu gumamnya. Namun ia sudah bertekad, kesempatan ini harus menjadi momen berharga yang tak boleh ada seorang pun dari anak maupun cucunya yang bisa mengganggunya. Ia sudah gerah diperlakukan seperti anak kecil. Hari itu, Mbah Uwais akan bertemu dengan teman masa mudanya. Tanpa ia pernah duga, pundaknya ditepuk lemah oleh seseorang. Seorang yang lama dinanti-natinya. Mbah Uwais pun tersenyum menyapa. “Hei, Azhar! Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama.” Entah sudah berapa puluh tahun mereka tak pernah bertemu, namun Mbah ...

TAHUN BARU HIJRIYAH, SAAT BENAR-BENAR KEMBALI HIJRAH

Hijrah, A Move to be Better Setahun penantian telah berlalu, saatnya menyongsong tahun yang baru. Sebuah harapan penuh gairah yang menggiurkan terpampang di depan mata. Perbaiki kesalahan-kesalahan lama yang membuat pikiran gerah. Saatnya untuk merefleksi diri kembali. Bercermin selama satu tahun ke belakang dan merencanakan selama satu tahun ke depan.  Saatnya introspeksi segala tindak-tanduk kita untuk kemudian menjadi acuan menantang ‘masa(lah di)depan’.     Saat ini masih hangat-hangatnya Tahun Baru Hijriyah, sebuah penanggalan resmi umat Islam yang oleh Umar bin Khaththab diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta Abu Bakar dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi ini kemudian disusul oleh rombongan sahabat-sahabat yang lain. Maka dari itu, patokan tahun pertama hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi tersebut. Bukan dimulai dari peristiwa lahirnya Nabi Muhammad sebagaimana penanggalan Masehi yang menjadikan peristiwa lahirnya Isa Al-Masih sebag...

SEBUAH SESAL YANG SAMAR

A Lonely Old Man Semilir melambai teduh ketika ia memejamkan mata dalam sepinya. Nuansa mesra seperti ini selalu berhasil membuatnya hanyut dalam gelombang tenang. Hatinya selalu merasa tentram walaupun hanya berteman sunyi. Jauh dari hingar bingar gemuruh dunia luar. Sukmanya menggelegar, sakit menyeluruh seluruh tubuh setiap mengingat dunia yang selalu sulit ia jauhi. Dunia kejam yang terlanjur mencengkeram seluruh sendi-sendinya. Kening keriput Mbah Uwais pun saling mengernyit menahan rasa resah. Dalam perjalanan panjangnya ia banyak mendapatkan banyak hal tak terkira. Seperti ia yang tiap saat menjumpai dengus panas gerutu manusia-manusia di sekitarnya. Entah mereka kurang merasakan sentuhan syukur dalam kalbunya, sehingga ia selalu mengeluh dalam tiap tingkat jalan hidupnya. Atau mungkin saja mereka terlalu lama larut dalam angan-angan dan ambisi yang telah terlanjur dalam menusuk ulu hatinya. Mbah Uwais masih saja bingung memikirkan hal itu. Di setiap fase hidup...

SENANDUNG RINDU YANG MENGGANGGU

The Great Mosque of Demak, One of The Old Javanese Mosques  Surat berbahasa Arab itu pun akhirnya selesai ia tulis. Tinta yang ia torehkan dalam secarik kertas itu tergores dengan gamblang. Bagaimana sebuah surat atas nama keresahan yang ia pendam sejak lama. Sebuah keresahan atas serangan zaman yang kian edan . Kiai Mahmud dengan kop surat pondok pesantren yang diasuhnya—Pesantren Darul Ulum Asy’ariyah—mengirim surat tersebut kepada kawannya, Kiai Mas’ud Kawuganten. Surat tersebut berjudul Risalah Hukm An-Nida’ lil Ibadah bis Spikr (Risalah tentang hukum mengajak beribadah dengan speaker). Dari judulnya saja mungkin kita sudah memahami, bahwa surat ini dimaksudkan untuk menentang penggunaan speaker atau alat pengeras suara di masjid. Hujjah yang ia bangun adalah selain tidak ada di zaman Nabi— bid’ah—, juga berdasarkan banyaknya mudharat yang disebabkan. Terutama, yang dimaksudkan Kiai Mahmud bila misal speaker tersebut mengganggu hak dan kebutuhan manusiawi orang lain. ...